Ivandhana

I am a Writer

Profil

Ivandhana adalah seorang personal productivity coach dan corporate coach. Beliau telah banyak bekerja secara intensif bersama beberapa perusahaan multinasional sebagai coach dan trainer. Ivan telah berpengalaman dalam memberikan pelatihan selama lebih dari 1500 jam dan sekitar 4000 peserta dengan pendekatan training dan coaching dengan beragam topik, mulai dari leadership, komunikasi, productivity hingga topik-topik pengembangan diri.

Me

Skill

Beberapa kemampuan yang saya miliki adalah.

Training Delivery 90%
Training Design 85%
Coaching 90%
Communication Skills 90%

In House Training

Program training in house sesuai dengan kebutuhan organisasi

Public Training

Program training yang dibuka untuk publik dengan berbagai macam materi mulai dari leadership, negotiation skill, communication skill dan lainnya

Coaching

Sesi one on one coaching atau group coaching untuk membahas berbagai hambatan didalam organisasi maupun kehidupan pribadi

Learning Designer

Pembuatan program pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu di organisasi

Mentoring Public Speaking

Program mentoring untuk meningkatkan keberanian dan kemampuan dalam menyampaikan gagasan di depan umum

Potential Genetic Consultant

konsultasi potensi genetik manusia dengan menggunakan metode Stifin Fingerprint

0
Project Training
0
Institusi
0
Total Peserta
0
Jam Mengajar
Tampilkan postingan dengan label Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pikiran. Tampilkan semua postingan
  • Ketepatan dalam Kemarahan


    Aristoteles pernah berkata bahwa "Siapapun bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yg baik, bukanlah hal mudah."   

    Kutipan dari Aristoteles diatas menggambarkan bahwa marah tidak selalu merupakan hal yang negatif. Kita boleh saja marah selama kemarahan kita tadi memiliki tujuan yang tepat. Kita boleh saja marah bila momen marah tersebut dimunculkan di waktu yang tepat. Pertanyaannya, kapankan momen marah itu menjadi tepat?

    Dalam beberapa kondisi dan situasi, akan selalu ada hal-hal yang membuat kita merasakan amarah. Biasanya emosi atau amarah ini muncul ketika kita melihat atau merasakan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Semakin besar gap atau kesenjangan antara harapan dengan kenyataan yang kita rasakan, maka kemungkinan orang untuk marah akan semakin besar. Tentunya, hal ini tidak berlaku pada orang-orang yang sudah memiliki pengendalian diri cukup baik.

    Namun pernahkah kita melakukan review apakah amarah yang kita keluarkan itu sudah tepat? Atau apakah kemarahan yang kita keluarkan ternyata tidak tepat? Bagaimana indicator benar atau salah dari kemarahan yang kita lakukan?

    Sesungguhnya kemarahan adalah mekanisme perlindungan diri yang dirancang untuk memperingatkan pengganggu untuk menghentikan perilaku mengancam mereka terhadap diri kita. Itu sebabnya pada dasarnya perilaku marah kita dapat juga dianggap sebagai hal positif bagi diri kita sendiri. Namun yang menjadi kurang tepat adalah ketika kemarahan yang kita keluarkan membuat kita tidak memikirkan situasi dan kondisi di lingkungan yang akhirnya justru menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain disekitar kita.

    Kemarahan yang kita keluarkan harus demi kebaikan orang lain disekitar kita dalam jangka pendek maupun panjang. Karena marah itu sebenarnya bersifat netral. Baik atau buruknya marah itu sendiri sebenarnya sangat ditentukan dengan waktu dan konteks kemarahan yang kita keluarkan. 

    Setiap kemarahan yang kita keluarkan seharusnya bukan menjadi ajang melampiaskan kekesalan sesaat, melainkan agar kemarahan tersebut menjadi pembelajaran yang positif bagi lingkungan sekitar kita

    Jadi, yuk belajar menyikapi kemarahan dengan tepat. 


  • PEMAHAMAN TENTANG SEBUAH KEINGINAN


    Memahami apa yang kita inginkan itu penting agar kita mengetahui langkah yang dibutuhkan. Kisah dibawah ini, mungkin dapat menggambarkan pentingnya memahami apa yang kita inginkan dari setiap permasalahan yang kita rasakan.

    Seorang lelaki terlihat sedang duduk di kantin sebuah gedung perkantoran di kawasan Jakarta. Raut wajah lelaki ini menyiratkan bahwa dirinya sedang menghadapi permasalahan yang serius. Sapaan ceria dari beberapa rekan yang lalu lalang disekitarnya tak membuat lelaki ini merubah raut wajah sedikitpun. Karena penasaran, salah seorang diantara rekan yang memberikan sapaan tadi mendatangi sang lelaki untuk kemudian memberikan pertanyaan.

    “Kamu kenapa?”

    “Aku lagi dilema nih. Sepertinya aku harus pindah kerja. Selain karena standar gaji disini nggak sesuai ekspektasi, aku merasa nggak cocok dengan atasanku juga.”

    “Memangnya kamu pingin kerja dimana?”

    “Nggak tahu. Yang jelas aku merasa nggak cocok dengan lingkungan kerja disini.”

    “Memangnya kamu cocoknya dengan lingkungan kerja yang seperti apa?”

    Tampaknya, Lelaki ini tidak mampu menjawab pertanyaan terakhir dari rekannya tadi.
    Banyak diantara kita yang sering merasakan ketidakcocokan atas suatu kondisi. Ketidakcocokan ini biasanya muncul dengan beragam alasan, mulai dari permasalahan dengan atasan, keuangan ataupun masalah dengan lingkungan kerja disekitarnya.

    Namun ketika ditanya lebih jelas tentang bagaimana kondisi ideal yang diharapkan dari sebuah tempat kerja, seringkali kita membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan jawabannya. Dalam beberapa kesempatan lain, kita juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Sebagian orang bahkan lebih suka menggambarkan kondisi ideal yang dia harapkan dengan kalimat, “ yang penting tidak seperti disini.”

    Padahal, mengetahui dengan detail dan jelas tentang sesuatu yang ingin kita dapatkan atau ingin kita tuju itu sangat penting agar kita semakin memahami langkah yang perlu dilakukan untuk bisa mencapai tujuan tersebut. Karena ketidaktahuan tentang kemana kita ingin menuju seringkali membuat diri kita akhirnya memilih tempat yang salah lainnya.

    Contohnya adalah dalam hal memilih tempat kerja seperti kisah diatas. Kita boleh saja memutuskan untuk pergi dari lingkungan kerja kita saat ini dengan berbagai pertimbangan yang kita miliki sendiri. Namun ketika kita sendiri belum memahami lingkungan kerja seperti apa yang sesungguhnya ingin kita cari, maka cukup besar kemungkinan diri kita salah memilih tempat kerja lagi. Dampaknya, tentu saja akan mengganggu perkembangan karir diri kita di tempat kita bekerja nantinya.

    Maka, jika saat ini kita masih merasakan ketidaknyamanan didalam pekerjaan kita, pastikan kita telah memahami terlebih dahulu lingkungan pekerjaan seperti apa yang kita harapkan. Sehingga kita mampu merancang langkah kita dengan lebih baik menuju lingkungan kerja yang sesuai dengan harapan kita sendiri. Hal ini dibutuhkan untuk menghindari penyesalan yang bisa saja kita rasakan di masa depan.

  • Kecerdasan dalam Hubungan


    Kecerdasan pikiran bukanlah segalanya, karena yang juga dibutuhkan dalam kehidupan adalah kecerdasan didalam membangun sebuah hubungan. Sejak kecil, Vian memang tidak terlalu pintar dalam mata kuliah yang berhubungan dengan angka dan statistika. Entah kenapa mata kuliah ini terasa sangat memberatkan dirinya. Vian mendapatkan nilai D untuk pelajaran ini selama beberapa semester lalu.

    Namun Vian tidak putus asa, dia tak pernah berhenti mencoba dan berusaha. Berbagai metode belajar dia terapkan dalam kesehariannya yang membuatnya kerap begadang semalaman. Tapi Vian tak pernah mengeluh karena dia merasa ini adalah usaha yang memang harus dia perjuangkan

    Akhirnya pengumuman hasil ujian akhir semester pun tiba. Hasil perjuangan Vian ternyata terbayar lunas karena akhirnya dirinya mampu mendapatkan nilai B. Betapa senangnya Vian ketika itu. Saking senangnya, Vian berencana memasang hasil nilainya di dinding kamarnya sebagai motivasi untuk mata kuliah lainnya. Vian kemudian bercerita kepada Iko salah seorang teman dekatnya.

    “Ko akhirnya statistik ku dapet nilai B“  ujar Vian

    “Ah baru dapat nilai B saja udah seneng, aku yang dapet A aja biasa-biasa aja“, sahut Iko.

    Sejak di sekolah dasar, Iko memang terkenal pintar di kelasnya dan selalu masuk ke dalam rangking 3 besar di kelas. Vian yang saat itu sedang berbinar-binar dan semangat bercerita tiba-tiba langsung terdiam ketika mendengar komentar dari Iko. Kebahagiaannya perlahan meredup dan digantikan dengan kekecewaan.

    Sikap yang ditunjukkan oleh Iko memberikan gambaran pada diri kita tentang orang-orang yang memiliki EQ rendah. Walaupun orang-orang tersebut pintar secara akademis, namun dalam menjalani aktifitasnya, orang-orang tersebut mengalami kegagalan dalam memahami perasaan orang lain disekitarnya

    Sekarang, mari kita lihat situasi selanjutnya 

    “Vian, kenapa kamu keliatan sedih hari ini?” sapa Intan begitu masuk ke kelas.

    “aku cuman dapet nilai B dalam statistik” ujar Vian dengan nada lesu

    “Wow hebat donk, kamu sempet ngulang lagi kan kemaren gara-gara dapet D. Bagus donk sekarang dapet B“, hibur Intan kepada Vian.

    “Nggak perlu risau dan nggak perlu terlalu dipikirkan juga Vian. Walaupun belum maksimal, tapi setidaknya kamu kan sudah berusaha giat untuk mengejar nilai ini. Malah aku salut melihat mahasiswa yang punya semangat untuk berubah seperti dirimu.” ujar Intan membanggakan Vian.

    Apa yang bisa kita pelajari dari dua jenis situasi diatas?

    Begitulah kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ itu bekerja. Orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi cenderung mampu memahami perasaan orang lain disekitarnya seperti yang dilakukan Intan. Walau Intan sebenarnya juga tidak kalah pintar dalam pelajaran dibandingkan Iko, namun dia juga pintar memahami perasaan orang lain.

    EQ membantu kita menjadi seseorang yang sukses dalam menjalani kehidupan sosial dalam keseharian. Karena EQ membuat kita lebih peka terhadap kebutuhan perasaan atau emosi orang lain sehingga kita kemudian memahami langkah untuk mengatasinya. Itu sebabnya banyak pihak yang sepakat bahwa EQ atau kecerdasan emosional adalah salah satu kunci sukses diri kita didalam karir dan pekerjaan kita.

  • MOTIVASI ditengah KEGAGALAN


    Motivasi itu mutlak dibutuhkan dalam setiap aktivitas kita. Karena pada akhirnya motivasi itulah yang akan membuat diri kita mampu bertahan menghadapi kesulitan dan kegagalan yang ada. Abraham Lincoln adalah salah satu contoh orang yang sukses dalam menjaga motivasi tatkala menghadapi kesulitan dan kegagalan. Hal ini tidak lepas dari kisah keberhasilan beliau untuk mendapatkan apa yang dia inginkan setelah mengalami kegagalan dalam hidupnya selama 20 tahun. 
    Kegagalan-kegagalan tersebut antara lain :

    1. Gagal dalam bisnis pada tahun 1831.
    2. Dikalahkan di Badan Legislatif pada tahun 1832.
    3. Gagal sekali lagi dalam bisnis pada tahun1833.
    4. Mengalami patah semangat pada tahun 1836.
    5. Gagal memenangkan kontes pembicara pada tahun 1838.
    6. Gagal menduduki dewan pemilih pada tahun 1840.
    7. Gagal dipilih menjadi anggota Kongres pada tahun 1843.
    8. Gagal menjadi anggota Kongres pada tahun 1848.
    9. Gagal menjadi anggota senat pada tahun 1855.
    10. Gagal Menjadi Presiden Pada Tahun 1856.
    11. Gagal Menjadi anggota Dewan Senat pada tahun 1858.

    Berbagai kegagalan yang dialami dalam dunia politik tidak lantas membuat Abraham Lincoln menyerah. Abraham Lincoln akhirnya berhasil menjadi presiden Amerika ke -16 pada tahun 1980 dan sempat disebut sebagai salah satu presiden tersukses dalam memimpin bangsanya, menghentikan perang saudara Amerika, dan menghapuskan perbudakan.

    Kira-kira apa yang akan terjadi bila diri kita mengalami kegagalan demi kegagalan terus menerus selama puluhan tahun seperti yang di alami oleh Abraham Lincoln? Bisa jadi diri kita akhirnya berhenti dan menyerah dalam menggapai apa yang jadi tujuan kita tersebut. Karena tidak mudah untuk bisa bertahan ketika lingkungan selalu menunjukkan pada diri kita tentang pahitnya sebuah kegagalan.

    Apa yang membuat Abraham Lincoln bersedia bertahan menghadapi kegagalannya kala itu? Jawabannya hanya satu, yaitu MOTIVASI. Satu hal yang membuat Abraham Lincoln tetap bertahan dari setiap kegagalan yang dia alami adalah motivasinya yang kuat untuk menghapuskan praktik perbudakan yang kala itu masih banyak ditemui di Amerika. Tanpa disadari, motivasinya ini menjadi energi penggerak utama yang membuat dirinya terus maju walaupun sempat merasakan kegagalan yang bertubi-tubi.

    Keberhasilan hanya bisa diraih dengan bertahan dari kegagalan. Dalam proses pencapaian kesuksesan, akan banyak rintangan dari luar, caci maki dan cemoohan dari lingkungan di sekitar kita. namun selama kita mampu menemukan motivasi yang dibutuhkan dari dalam diri kita, maka kita akan mampu menghadapi setiap rintangan dan hambatan tersebut hingga akhirnya kita bisa meraih sesuatu yang memang kita harapkan

    Jadi, sudahkah kita menemukan motivasi terkuat dalam setiap aspek kehidupan kita?


  • EMOSI membatasi PERSEPSI


    KENAPA PENGAJUAN SAYA DITOLAK? Seorang lelaki berkata dengan nada tinggi. Tatapannya berubah menjadi penuh benci seakan lawan bicaranya baru saja mengucapkan sesuatu yang menyinggung hati. Namun pada kenyataannya, sejak tadi lawan bicaranya ini tak mengeluarkan sepatah kata apapun. 

    Lawan bicara dari pria yang sedang marah ini adalah Customer Service sebuah bank sehingga tampaknya sudah terbiasa menghadapi seseorang yang marah-marah dan mengajukan komplain. Walaupun sedang menghadapi suara bernada keras, sang Customer Service terlihat tetap tenang.

    Belum sempat Customer Service tersebut memberikan tanggapan, pria ini meluapkan emosinya kembali

    “ASAL KAMU TAU YA, BEBERAPA BULAN LALU SAYA SUDAH MENGAJUKAN DAN DITERIMA, LANTAS KENAPA SEKARANG DITOLAK?”

    “BARU JADI BANK KECIL AJA UDAH SOK”

    “KAMU NGGAK TAU YA SIAPA SAYA..”

    “SAYA NGGAK BUTUH PENGAJUAN SAYA INI DITERIMA, SAYA BISA MEMBAYAR SENDIRI KEBUTUHAN SAYA”

    Sang Konsumen ini terus-terusan mengeluarkan umpatan bernada kekesalan. Mendengar kemarahan dan kekesalan dari kosumen, Customer Service tersebut hanya terdiam sembari mendengarkan dengan seksama. Bagi Customer Service tersebut, sia-sia saja berbicara dengan seseorang yang sedang emosi. Itu sebabnya sejak awal dirinya  hanya menerima dan mendengarkan kemarahan sang konsumen dengan sabar.

    Ada salah satu penelitian yang menyebutkan bahwa marah atau emosi itu menghalangi fungsi kognitif dari otak sehingga akhirnya membuat pemrosesan informasi jadi lebih rendah dan lambat. Ini sebabnya ketika ada seseorang yang marah, orang tersebut seakan-akan tidak mampu berpikir dengan jernih dan tidak mampu melakukan analisa atas tindakannya sendiri.

    Didalam menjalankan setiap kegiatan, pada dasarnya kita senantiasa melakukan analisa terhadap sebuah kondisi dengan menggunakan persepsi pribadi yang terbentuk dari pengalaman kita yang telah lalu. Namun ketika seseorang kemudian merasa emosi, sebenarnya orang tersebut membatasi persepsinya hanya berdasarkan perasaan diri. Itu sebabnya persepsi dirinya seakan-akan menjadi terbatas dan orang tersebut tidak mau memahami situasi dan sudut pandang orang lain.

    Maka, akan jadi sangat melelahkan dan hanya akan membuang energi bila diri kita sampai terbawa emosi yang ditimbulkan oleh orang yang sedang marah tersebut. Karena di sisi lain energi yang kita keluarkan bila kita terpengaruh emosi tersebut jadi sia-sia karena tidak mampu menghasilkan keputusan yang dibutuhkan. 

    Jika memang diri kita akhirnya tak mampu menahan diri dan terbawa emosi, maka bisa jadi diri kita juga sedang membatasi persepsi kita seperti yang sudah dibahas diatas. Hal ini membuat kedua belah pihak akhirnya sama-sama membatasi persepsi mereka dan tidak mau terbuka terhadap pendapat-pendapat yang memang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan

    Maka, berpikirlah dua kali sebelum kita melakukan sebuah tindakan terutama ketika sedang emosi, agar bisa kita memikirkan dampak baik dan buruknya tindakan kita secara seksama sehingga mampu membawa diri kita pada hasil yang benar-benar kita harapkan 

  • MOTIVASI dan BAHAN BAKAR DIRI


    Puluhan penumpang panik saat mengetahui speedboat yang ditumpanginya mati mesin di perairan Laut Muara. Speedboat yang berangkat dari Tanjung Selor pada Jumat (09/09/2016) sekitar pukul 15.30 WITA ini mati mesin akibat kehabisan bahan bakar.

    Akibatnya, puluhan penumpang yang ada di dalam speedboat satu mesin ini terombang-ambing di lautan lebih dari satu jam. Apalagi saat kejadian cuaca dalam kondisi buruk dan hujan lebat.

    Penumpang akhirnya bisa melanjutkan perjalanan ke Kota Tarakan setelah ada salah satu speedboat dari Pelabuhan Tarakan yang membawa bahan bakar. Speedboat dengan puluhan penumpang ini akhirnya bisa bersandar di pelabuhan Tengkayu Tarakan sekitar pukul 18.20 WITA dengan selamat (sumber : www.kaltarakita.com)

    Pernahkah kita membayangkan sebuah kendaraan yang mampu berjalan tanpa bahan bakar atau energi untuk menggerakkannya? Pasti sulit dibayangkan bukan? Bahkan sebuah sepeda, membutuhkan energi yang berasal dari tenaga manusia untuk bisa bergerak. Pada dasarnya, setiap benda yang bergerak pasti membutuhkan energi untuk mensupport gerakannya tersebut. Energi tersebut bisa berasal dari banyak hal seperti dari bahan bakar minyak, listrik, angin dan yang lainnya. 

    Manusia pada dasarnya juga senantiasa membutuhkan energi dalam rangka menggerakkan dirinya untuk mencapai tujuannya. Tanpa energi ini, manusia akan sulit bergerak atau justru berhenti bergerak karena kehilangan energi yang menopang aktifitasnya

    Apa saja kira-kira energi yang dibutuhkan manusia untuk menjalankan aktifitasnya? Salah satu energi tersebut adalah motivasi. Motivasi adalah energi tak terlihat yang mampu membuat manusia tetap bergerak walaupun di tengah kondisi sulit yang mengharuskannya untuk berhenti. Karena dari motivasi inilah akan timbul sebuah dorongan untuk melakukan sesuatu. Dorongan ini juga yang nantinya akan menggerakkan diri kita untuk mengeluarkan usaha lebih untuk mencapai apa yang jadi tujuan kita

    Karena motivasi terbesar dalam diri kita itulah yang nantinya akan memunculkan pencapaian-pencapaian besar dalam kehidupan kita

    Jadi apa motivasi terbesarmu?


  • Sudut Pandang Kebahagiaan



    Yang mampu mengubah kehidupan seorang manusia, bukanlah manusia lain disekitarnya, melainkan pribadi manusia itu sendiri. Pesan inilah yang saya tangkap dari film terbaru Sahrukh Khan yang berjudul Dear Zindegi yang baru saja saya tonton beberapa jam yang lalu. Dilihat dari tampilan poster filmnya, awalnya saya menebak bahwa film ini pastilah penuh dengan adegan percintaan. Namun ternyata setelah 140 Menit menonton filmnya secara langsung, saya kemudian menyimpulkan bahwa pendapat saya tidaklah sepenuhnya tepat karena ternyata film ini menyuguhkan sesuatu yang berbeda

    Alur cerita film Dear Zindagi berkisah tentang kegalauan Kaira, seorang sinematografi muda, cantik, berdarah India. Kaira sudah empat kali pacaran dan menjalin hubungan dengan para kekasihnya, tetapi kaira merasa kesulitan menemukan kenyamanan.

    Setiap hubungan yang dbangun bersama  kekasihnya selalu berujung pada kegagalan. Hal ini membuat Kaira stress, frustasi dan merasa hidupnya tidak adil karena disisi lain, hubungannya dengan keluarganya pun memburuk. Di tengah kegalauannya itu, Kaira kemudian memutuskan berkonsultasi intensif dengan seorang dokter dan terapis bernama Jehangir Khan. 

    Alih-alih bersikap sebagai seorang terapis, Khan justru bersikap sebagai seorang sahabat yang dengan setia mendengarkan Kaira dalam setiap sesi konsultasinya. Seminggu sekali, Kaira bertemu dan berkonsultasi dengan Khan untuk menyembuhkan penyakitnya. Namun Khan memiliki cara yang unik dalam menangani orang-orang dalam sesi therapy nya, termasuk sesinya dengan Kaira. 

    Dalam setiap sesi, Khan sama sekali tidak menggurui Kaira ataupun bersikap layaknya seorang dokter pada umumnya. Khan hanya menjadi pendengar yang baik, memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengubah sudut pandang Kaira dalam menjalani kehidupannya dan sesekali Khan juga berbagi beberapa kisah dan cerita agar Kaira mengambil pelajaran dari kisah tersebut

    Singkat cerita, akhirnya dari pertayaan-pertanyaan yang kerap diberikan oleh Khan ini, akhirnya sudut pandang Kaira terhadap kehidupannya berubah 180 derajat. Dari yang awalnya memandang kehidupannya dengan sinis dan penuh emosi akibat kisah pahit di masa lalunya, Kaira kemudian belajar bahwa untuk memulai sesuatu yang baru, dia harus berani memaafkan masa lalu dan memutuskan untuk menjalani hidup dengan bahagia di masa kini.

    Untuk membantu mengubah kehidupan orang lain disekitar kita, terkadang kita merasa bahwa itu membutuhkan kata-kata bijak dan solusi yang benar-benar jitu yang bisa kita berikan. Namun hal ini tidaklah sepenuhnya tepat karena dalam kisah diatas, ternyata pertanyaan-pertanyaan yang menggugah pemikiran justru ampuh untuk mengubah orang tersebut. Inilah yang disebut dengan metode Coaching yang seringkali mampu mengubah kehidupan.

    Maka, ketika dirimu menemukan orang lain disekitar yang membutuhkan pertolongan untuk menghadapi masalah dalam kehidupannya, tidak perlu bingung mencari solusi dan kalimat bijak yang tepat karena kadang hanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengubah sudut pandang ini, kita akan mampu mengubah kehidupannya. 

  • Persepsi, Emosi, dan Perilaku diri


    Seorang atasan mendapatkan kabar bahwa karyawannya yang memiliki prestasi membanggakan akan ditarik untuk bekerja pada perusahaan kompetitor. Sebut saja atasan ini bernama Doni. Doni merasa tersinggung karena ada salah seorang karyawannya yang tidak pernah mengutarakan niatnya untuk berpindah tempat kerja. 

    Namun Doni justru mendapatkan informasi perihal kepindahan kerja karyawannya ini dari orang lain. Doni pun jengkel karena merasa dirinya tidak dianggap oleh karyawannya sendiri. Padahal Doni merasa dirinya memiliki andil untuk ikut mendidik karyawannya ini hingga memperoleh banyak prestasi. Perasaan jengkel ini tanpa disadari membuat Doni menunjukkan sikap sinis kepada karyawannya dalam menjalankan aktivitasnya sepanjang hari.


    Perilaku sinis yang ditunjukkan oleh Doni akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan bagi sang karyawan yang akhirnya membuat karyawan tersebut memutuskan untuk berpindah perusahaan. Belakangan diketahui bahwa ternyata sejak awal, karyawan tersebut tidak pernah berniat berpindah ke perusahaan kompetitor. Tapi sang pemimpin sudah terlanjur bersikap sinis.


    Persepsi diri pada dasarnya mempengaruhi tingkat emosi kita yang akhirnya juga akan mempengaruhi perilaku kita. Maka, berhati-hatilah dalam mempersepsikan lingkungan kita agar perilaku yang kita tunjukkan benar-benar sesuai. Sama seperti dalam kisah diatas. Walaupun baru sekilas mendengar sebuah kabar, Doni langsung mempersepsikan apa yang didengarnya sebagai sebuah kebenaran. Padahal kebenaran menurut Doni ini masih sangat perlu untuk dibuktikan kembali


    Sayangnya, Doni tidak berupaya untuk mencari kebenarannya di tempat lain yang membuatnya merasakan emosi terhadap kondisi tersebut. Emosi ini akhirnya mendorong Doni untuk mengeluarkan perilaku yang sesungguhnya tidak tepat. Alhasil dampak dari perilaku tersebut justru merugikan dirinya sendiri.


    Maka, sebagai manusia yang baik, berhati-hatilah dalam mempersepsikan apa yang ada di lingkungan sekitar kita, karena apa yang kita persepsikan sesungguhnya akan menentukan emosi diri dan perilaku yang kita keluarkan


  • KEKURANGAN UNTUK PERKEMBANGAN


    Perkembangan itu bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak buku yang kita baca, melainkan juga ditentukan oleh seberapa besar kita bersedia mengakui kekurangan yang kita punya. Pernahkah kita bertemu seseorang yang dengan mudahnya menyalahkan orang lain atas sebuah kondisi?  Sebut saja namanya Adi. 

    Di lingkungannya, dia sering dijuluki sebagai Mr Right. Julukan ini muncul karena kebiasaan buruknya yang suka menyalahkan orang lain ketika dirinya melakukan kesalahan. ketika ada masalah yang dihadapi dan ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan yang telah diperkirakan oleh dirinya,  Adi ini lebih suka melihat kesalahan orang lain di sekitarnya ketimbang melakukan introspeksi untuk dirinya sendiri.  

    Beberapa kali, teman-temannya memberikan nasehat kepada Adi agar sesekali bersedia mendengarkan masukan dari orang lain, namun tampaknya nasehat dari teman-temannya ini tidak pernah didengar. Padahal ketika kita tidak bersedia mendengarkan sebuah masukan, Sebenarnya kita juga sedang menutup pintu perkembangan bagi diri kita sendiri.

    Salah satu hal yang turut menentukan tingkat perkembangan seorang manusia didalam menjalani kehidupannya adalah penerimaan terhadap sebuah kekurangan. Bagaimana seseorang itu menerima dan merespon kekurangan dirinya akan mempengaruhi tingkat perkembangan orang tersebut. Ketika seseorang menerima kekurangan yang ada dalam diri dan menyadari bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk melakukan kesalahan, maka ketika itulah seorang manusia tidak akan dengan mudah menyalahkan lingkungan. 

    Namun, ketika seseorang cenderung lebih suka menyalahkan lingkungan atas apa yang terjadi didalam dirinya seperti di kisah Adi tadi, sebenarnya orang tersebut sedang merasa menjadi seseorang yang paling benar didalam sebuah kondisi. Perasaan paling benar inilah yang jika tidak disikapi dengan bijak justru akan menutup pintu pembelajaran bagi diri kita. 

    Karena dengan merasa paling benar, kita cenderung merasa paling pintar yang seringkali justru membuat kita tidak memahami pentingnya sebuah pembelajaran. Padahal, pembelajaran adalah salah satu faktor penting yang membentuk sebuah perkembangan. Seperti pidato Steve Jobs yang berkata “stay hungry & stay Foolish” yaitu tetaplah merasa lapar dan tetaplah merasa bodoh, agar dirimu senantiasa memahami pentingnya pembelajaran bagi perkembanganmu.

  • PENILAIAN BERUJUNG KESALAHAN


    Kemarin, saya berkesempatan ke daerah jakarta pusat untuk bertemu dengan beberapa rekan saya dan membahas beberapa project yang akan saya kerjakan ke depannya. Perjalanan saya seperti biasa menggunakan sarana transportasi massal yaitu KRL (Kereta Rel Listrik) atau yang sering disebut sebagai Commuter Line. 

    Saya memang lebih suka menggunakan jasa KRL karena biasanya saya bisa menemukan pengalaman dan pembelajaran didalam perjalanan saya. Sama seperti pada momen kali ini yang seakan mengingatkan dan memberikan pelajaran pada saya tentang penilaian pribadi terhadap seseorang yang hanya berdasarkan dari apa yang tampak dari luar itu seringkali salah.

    Suasana didalam KRL kali ini tidak terlalu ramai walaupun semua kursi sudah terisi. Saya sendiri tidak mendapatkan tempat duduk sehingga terpaksa harus berdiri. Di salah satu stasiun tiba-tiba masuklah dua orang yang tampaknya menarik perhatian saya dan orang lain disekitar saya. Kedua orang ini tampak bertato dan terlihat jelas berjenis kelamin laki-laki. 

    Beberapa detik setelah mengamati keduanya, saya akhirnya sadar apa yang menarik dari kedua orang ini, yaitu mereka menggunakan rok dan pakaian wanita. Mereka berdua menjinjing sound system berukuran mini di tangan mereka yang terlihat cukup berotot.

    Tentunya kedua orang ini menarik perhatian orang lain disekitarnya. Bahkan beberapa orang disekitar mereka terlihat menjauh. Entah merasa risih atau mungkin takut diganggu oleh kedua orang itu. Saya sendiri tidak merasa terganggu walaupun saya berdiri cukup dekat dengan kedua orang itu. Saya justru penasaran dengan apa yang kan mereka lakukan didalam KRL. 

    Hal pertama yang mereka lakukan setelah masuk kedalam KRL adalah menegur lelaki yang duduk di kursi prioritas yang memang selalu ada di tiap gerbong KRL. Kursi prioritas ini biasanya diperuntukkan khusus bagi anak-anak, lansia dan ibu hamil didalam KRL. Setelah menegur lelaki yang duduk di kursi prioritas, kedua orang ini kemudian menoleh dan memanggil seorang wanita berusia lanjut yang baru saja masuk dan belum mendapatkan tempat duduk.  

    Setelah sang wanita ini duduk, kedua orang ini kemudian mengingatkan pada penumpang lain di sekitarnya tentang penggunaan kursi prioritas ini di tiap gerbong KRL. Beberapa saat kemudian kedua orang ini turun di stasiun selanjutnya dan tampaknya bersiap untuk melanjutkan aktifitas mereka.

    Saya cukup surprise dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang tadi. Bagi saya, ini adalah cerminan bahwa kita tidak bisa menjudge seseorang dari apa yang terlihat di luarnya saja. walau secara kasat mata, kedua orang ini memang tergolong “aneh” di mata lingkungan sekitarnya, namun mereka memiliki sesuatu yang lebih bila dibandingkan dengan orang pada umumnya, yaitu mereka memiliki kepekaan lebih terhadap sesamanya dan berani memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini dengan tindakan mereka tadi. 

    Seberapa sering kira-kira kita menilai seseorang itu baik atau buruk dari penampilannya? Penampilan itu memang penting, namun dia belumlah tepat untuk digunakan sepenuhnya dalam melakukan penilaian terhadap seseorang. Kita memerlukan pengamatan lebih dalam untuk menilai seseorang yang itu tidak hanya berdasarkan apa yang tampak di luarnya. 

    Sayangnya didalam menjalankan rutinitas sehari-hari, tanpa disadari kita cenderung lebih suka melihat sekilas dari luar dan kemudian ditambah dari melihat pendapat orang disekitar kita untuk kemudian melakukan penilaian pribadi. Padahal pendapat dari orang di sekitar kita ini sendiri belum tentu tepat. 

    Lantas apa yang perlu kita perbuat dengan situasi diatas? Apakah kita tidak boleh membuat penilaian pribadi? Tentu saja penilaian pribadi itu diperbolehkan karena pada dasarnya manusia memang selalu membuat penilaian pribadi terhadap orang lain disekitarnya. Namun yang perlu kita perhatikan adalah kita harus berhati-hati dalam membuat sebuah penilaian. Karena cara kita menilai sesuatu itu akan menentukan kualitas diri kita. 

    Jangan sampai kita terlalu mudah membuat penilaian yang salah kepada orang lain yang akhirnya membuat kredibilitas kita berkurang dan kita akhirnya hanya dianggap sebagai orang yang perkataannya tidak berkualitas dan tidak bijaksana dalam menilai sesuatu. Pada akhirnya perilaku kita tersebut justru akan membuat orang lain kehilangan kepercayaan pada diri kita.. 

    Semoga bermanfaat :)
  • EMOSI dan PENGUASAAN DIRI


    “Hei! Kamu orang yang cari gara-gara kemarin kan? Kamu pasti yang menabrakku kemarin lantas langsung kabur! Oh, jadi namamu Ali ya. Lihat ini! Gara-gara kamu, diriku jadi cedera dan tidak bisa beraktifitas normal seperti biasanya.”

    “Kemarin saya tidak naik motor dan menabrak seseorang kok. Saya juga tidak pernah kebut-kebutan hingga merugikan orang lain. Saya benar-benar bukan.......” 

    Belum sempat  Ali menyelesaikan kalimatnya, sebuah kepalan tangan mendarat tepat di depan hidungnya!” Ali pun langsung terkapar dan kehilangan kesadaran akibat pukulan bertubi-tubi yang diterima olehnya. 

    Setelah puas memukul Ali, pemuda tersebut lantas pergi. Namun baru beberapa langkah meninggalkan tempatnya tadi, mendadak handphonenya berbunyi. Sahabatnya memberikan kabar bahwa orang yang menabrak pemuda tersebut beberapa hari yang lalu, baru saja tertangkap di kantor polisi. Melihat pesan tersebut, sang pemuda hanya bisa terdiam sembari menyesali perbuatannya barusan.

    Emosi memang seringkali membuat kita lupa siapa kita, bagaimana kita, dan apa yang harus kita lakukan terhadap sebuah situasi. Emosi pun sering membuat kita lupa diri sehingga akhirnya merugikan diri kita sendiri. Terlebih lagi bila sebelumnya kita telah memendam amarah yang cukup besar. 

    Itu sebabnya ada yang menganalogikan amarah itu layaknya sebuah bom waktu yang ketika ditahan terlalu lama, sebenarnya dia siap untuk meledak kapan saja hingga akhirnya merugikan orang-orang disekitarnya. Ketika bom amarah dan emosi tersebut benar-benar meledak, bisa saja dalam perasaan kita akan muncul kelegaan, namun beberapa saat kemudian berpotensi timbul sebuah penyesalan karena emosi yang meledak itu pada dasarnya cenderung menghasilkan perbuatan yang negatif dan merugikan

    Maka, kita harus membiasakan diri untuk berpikir dua atau tiga kali sebelum melakukan sesuatu dan jangan biarkan emosi menguasai kehidupan kita,  karena emosi itu layaknya pisau bermata dua yang tidak hanya siap menusuk diri kita sendiri, namun juga siap untuk menusuk banyak orang lain disekitar kita. 

  • MOTIVASI dan SEBUAH ALASAN


    Seorang pria meletakkan buku yang dipegangnya diatas meja. Dia kemudian memikirkan tentang buku yang diletakkan tadi sembari terdiam di sebuah kursi. Motivasinya untuk membaca buku tersebut tiba-tiba meredup di tengah aktifitasnya yang padat. 

    Seminggu yang lalu dia baru saja mengikuti sebuah training motivasi tentang bagaimana merubah hidup agar lebih terarah. Sepulangnya dari acara tersebut, dia pun membeli beberapa buku yang dia butuhkan sebagai bentuk semangat yang luar biasa untuk merubah kehidupannya saat ini yang terkesan monoton dan itu-itu saja. Namun hari ini motivasinya seakan menghilang yang kemudian berganti dengan rasa malas yang besar bahkan untuk membuka beberapa lembar buku yang tampaknya seminggu lalu tampak menarik baginya. Dia sendiri tidak memahami apa yang terjadi pada dirinya.

    Hampir sebagian besar orang pernah merasakan sindrom hangat-hangat tahi ayam. Suatu sindrom dimana kita merasakan semangat yang berlebih ketika memulai sesuatu dan merasa bahwa diri kita sangat luar biasa. Namun secara perlahan kepercayaan diri kita makin menurun dan motivasi kita meredup hingga akhirnya kita berhenti melakukan sesuatu yang telah kita rencanakan di awal.

    Berdasarkan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, teori X dan Y Douglas McGregor maupun teori motivasi kontemporer, arti motivasi sendiri adalah alasan yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu. Seseorang dikatakan memiliki motivasi tinggi bila orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang.

    Maka, jika kita menginginkan adanya sebuah motivasi yang kuat dalam aktifitas kita saat ini, temukan alasan yang sangat kuat bagi diri untuk mencapai apa yang kita inginkan melalui aktifitas kita saat ini sehingga akhirnya kita akan memiliki dorongan lebih untuk mencapai apa yang kita inginkan.

    Banyak orang yang akhirnya kehilangan motivasinya dengan cepat karena sejak awal dia belum benar-benar menemukan alasan yang kuat dari dalam dirinya sendiri tentang mengapa dia harus melakukan sesuatu. Padahal, ketika kita belum menemukan alasan yang kuat tentang mengapa diri kita harus melakukan sesuatu, kita akan cenderung mudah kehilangan motivasi kita. 

  • PENUNDAAN RESPON untuk KETEPATAN KEPUTUSAN


    Pernahkah tanpa sengaja kita melakukan sebuah tindakan yang tidak tepat ketika sedang emosi atau marah dan beberapa detik kemudian kita menyesali apa yang telah kita lakukan? Didalam menjalankan aktifitas, terkadang  diri kita merasakan sebuah emosi akibat kondisi tertentu. Emosi ini menyebabkan kita melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kita lakukan atau beberapa pendapat sering menyebutkannya sebagai kekhilafan yang merupakan dampak dari emosi sesaat. Kondisi dimana kita sering mengeluarkan emosi sesaat ini disebut juga sebagai Amygdala Hijack.


    Wikipedia menyebutkan bahwa Amygdala adalah bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan terhadap reaksi emosi seperti sedih, marah, atau bahagia. Pada kondisi emosional, Amygdala memegang peranan yang sangat menentukan. Hal ini disebabkan karena Amygdala memindai semua informasi yang masuk melalui panca indra dan mengirimkan sinyal ke semua bagian otak untuk siaga. 


    Pasa saat marah, Amygdala bekerja 80.000 kali lebih cepat dibandingkan otak besar. Karena Amygdala bekerja lebih cepat, logika kita akhirnya cenderung dikalahkan oleh emosi. Kekalahan logika inilah yang membuat kita jadi gampang emosi dan sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Keadaan seperti inilah yang sering digambarkan sebagai Emotion Hijacking atau Amygdala Hijacking, karena otak (akal logika) kita ibaratnya sedang dibajak atau diambil alih oleh emosi kita tadi. Dampaknya, otak kita jadi tidak bisa berpikir dengan jernih dan keputusan serta tindakan yang kita ambil dalam kondisi tersebut cenderung tidak tepat.


    Lantas bagaimana caranya untuk menghindari agar logika kita tidak selalu dibajak oleh Amygdala kita sendiri? Untuk mengimbangi kecepatan Amygdala, otak besar butuh waktu sekitar 5 detik. Itu artinya, untuk mengatasi Amygdala hijack adalah dengan cara berhenti sejenak dari kegiatan yang memicu emosi tersebut selama 5 detik. Selama jeda waktu 5 detik itu kita bisa sekilas membayangkan hal-hal yang menyenangkan bagi kita. 


    Maka, ketika ada seseorang berlaku kurang baik kepada kita, berikan penundaan terhadap respon emosi kita sekitar 5 detik untuk kemudian memutuskan apakah kita akan marah, membalasnya atau cukup tersenyum kepada seseorang tersebut sebagai tanda ketulusan untuk menerima perlakuan tidak baik itu. Dengan demikian kita akan mampu menghindarkan diri dari tindakan-tindakan negatif yang pada akhirnya akan merugikan diri kita sendiri 

  • KEINGINAN yang MEMBUKA JALAN


    Saya masih mengingat dengan jelas momen akhir tahun lalu ketika untuk pertama kalinya saya mulai merasakan ketertarikan pada sebuah teknik yang bernama Coaching. Hal ini membuat saya mencari beberapa literatur dan referensi tentang perkembangan Coaching di Indonesia. Petualangan saya untuk mencari literatur ini tanpa sengaja membawa saya untuk mengenali salah dua dari beberapa tokoh yang memiliki dedikasi tinggi dalam pengembangan Coaching di Indonesia yaitu Ina Rizqie dan Kurnia Siregar. Mereka berdua adalah beberapa tokoh dibalik perkembangan International Coach Federation atau disingkat ICF di Indonesia. ICF sendiri adalah perkumpulan Coach yang ada di dunia.

    Kala itu saya sempat mengeluarkan pernyataan dalam hati, sepertinya menarik jika saya dapat bertemu langsung dengan dua sosok ini. Meskipun ketika itu saya hanya mengeluarkan kata-kata biasa di dalam hati tanpa ada harapan lebih, namun entah kenapa di momen tersebut saya sangat meyakini bahwa suatu saat nanti saya akan mampu bertemu dengan mereka.

    Sampai akhirnya, di hari ini momen pertemuan itu pun benar-benar tercipta. Tanpa disangka dan tanpa diduga ada sebuah momen yang membuat saya bisa bertemu langsung dengan mereka.

    Momen pertemuan saya hari ini membuat saya makin yakin bahwa KEINGINAN YANG KUAT, KEYAKINAN YANG TINGGI, dan LANGKAH YANG TEPAT akan mengarahkan kita pada hal yang kita harapkan walaupun di tengah kecilnya kemungkinan. Karena pada dasarnya kolaborasi dari ketiga hal inilah yang akan membuat setiap pilihan dan langkah yang kita ambil didalam keseharian akan memiliki arah dan makna yang jelas. Kolaborasi ketiga hal ini pada akhirnya juga akan meningkatkan peluang keberhasilan dalam mencapai apa yang kita harapkan.

    Sebaliknya, jika kita memiliki keinginan yang kuat namun keyakinan yang kita miliki kita masih rendah, sebenarnya justru akan membuat langkah yang kita ambil jadi kurang maksimal. Karena disisi lain kita ingin maju, namun kita tidak yakin bahwa diri kita mampu maju. Akhirnya langkah maju kita pun tidak akan bisa berjalan dengan maksimal.

    Maka bagi rekan-rekan yang merasa memiliki kemampuan minim atau terbatas dalam mencapai sesuatu dan masih tidak yakin atas apa yang mampu kita capai dalam hidup ini, saran saya adalah YAKINLAH. Karena jika kita sendiri tidak yakin pada apa yang kita inginkan, bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain, lingkungan serta Tuhan untuk menjawab setiap keinginan kita? 

    Maka, selalu mulailah dari KEINGINAN, jalani dengan KEYAKINAN, dan ambillah LANGKAH yang dibutuhkan. Insyaallah kamu akan mampu mencapai apa yang kamu harapkan

  • MOVE ON


    Kenapa rasanya aku sulit move on dari momen beberapa waktu lalu? Pertanyaan ini muncul di benak seorang wanita tatkala menjalani kesehariannya. Wanita ini tampaknya memang menjalani aktivitasnya dengan normal seperti biasa, namun di balik itu sebenarnya masih tersimpan pertanyaan besar dan kerisauan yang mendalam tentang momen yang pernah dialaminya. Sekuat apapun sang wanita berusaha untuk berpikir positif, maka semakin kuat pula kerisauan di dalam benaknya. Hingga akhirnya selalu muncul pertanyaan, kenapa dirinya belum mampu move on?

    Didalam bahasa indonesia, kata move bermakna berpindah, bergerak, atau bergeser. Artinya untuk bisa move on, kita harus berpindah, bergerak atau bergeser dari satu tempat ke tempat yang lain. perpindahan disini tidak hanya secara fisik atau badan, melainkan juga secara pikiran maupun perasaan. 

    Kita akan mengalami susah move on ketika salah satu dari ketiga komponen tersebut tidak ikut berpindah. Secara fisik mungkin kita sudah berpindah, namun pikiran atau perasaan kita belum berpindah, sehingga akhirnya kita pun sulit untuk move on. Begitu juga bila secara fisik kita berpindah, secara pikiran pun kita sudah berupaya berpindah atau melupakan, namun perasaan kita belum mampu berpindah dari sebuah tempat, maka diri kita pun akan mengalami kerisauan akibat belum mampu move on

    Maka cara terbaik untuk move on sebenarnya sederhana, pastikan diri kita mengalami perpindahan dalam 3 hal, yaitu fisik, pikiran, maupun perasaan. Karena keselarasan perpindahan ketiga hal inilah yang sebenarnya akan membuat usaha kita untuk move on membuahkan keberhasilan

  • FOKUS DIRI, KUALITAS PRIBADI


    Beberapa waktu lalu saya mengamati proses pembentukan sebuah community of interest di lingkungan pekerjaan. Tujuan awal pembentukannya adalah untuk menciptakan beberapa komunitas-komunitas baru di lingkungan pekerjaan sehingga ada suasana dan perbincangan baru yang tidak hanya membahas tentang pekerjaan saja. Pembentukan komunitas ini bagi saya sangat dibutuhkan didalam lingkungan pekerjaan, terlebih lagi jika kita melihat fakta bahwa lebih dari sepertiga waktu kita setiap harinya cenderung lebih banyak dihabiskan di kantor.

    Baru berjalan beberapa bulan, komunitas ini menghadapi beberapa kendala, terutama dari sisi anggota yang memang masih cenderung berfokus pada pekerjaan masing-masing. Dampaknya para anggota jadi tidak terlalu fokus terhadap pengembangan komunitas itu sendiri. komunitas ini akhirnya menjalankan aktifitasnya dengan suasana yang sepi dan peminatnya menyusut karena beberapa kesibukan masing-masing penggeraknya. Dalam beberapa kesempatan, beberapa penggeraknya pun mengalami kesulitan untuk hadir sehingga akhirnya roda perputaran komunitas dibebankan pada segelintir orang yang tersisa. Efeknya adalah beban pekerjaan dari anggota yang tersisa menjadi tinggi yang akhirnya menyulitkan orang tersebut untuk membagi waktu dan tenaganya. 

    Fokus pada pekerjaan pada dasarnya tidaklah salah karena pekerjaan adalah sumber penghidupan masing-masing orang. Namun yang bagi saya kurang tepat adalah  ketika fokus pada pekerjaan yang jadi sumber penghasilan itu membuat kita kemudian tidak memikirkan dampak dari tindakan kita terhadap situasi dan kondisi orang lain disekitar kita.

    Bagi saya kejadian diatas adalah cerminan dan bahan refleksi diri bahwa seringkali ketika kita terlalu fokus mengejar sesuatu, kita jadi kehilangan fokus pada beberapa hal lainnya. Kita boleh saja fokus untuk mengejar penghidupan kita, namun jangan sampai pilihan kita tersebut merugikan orang lain disekitar kita. karena sehebat apapun diri kita, sekaya apapun diri kita, kita tetaplah manusia biasa yang membutuhkan orang lain disekitar kita, maka sudah seharusnya setiap tindakan kita juga didasari dengan kemauan untuk memikirkan dampak dari setiap perbuatan kita terhadap orang lain.

    Karena pada akhirnya, kualitas seseorang itu bukanlah dinilai dari sesuatu yang dia capai, dia miliki, atau apa yang mampu dia dapatkan, melainkan ditentukan oleh seberapa besar manfaat yang mampu dia timbulkan bagi orang lain disekitarnya. 

  • PERDEBATAN untuk PEMBELAJARAN



    Permasalahan terbesar dalam berkomunikasi adalah seringkali kita mendengarkan untuk membalas atau menimpali, bukan untuk memahami.

    Seorang wanita terlihat kesal pada teman bicaranya. Tampaknya baru saja terjadi perdebatan diantara mereka. Wanita itu mengakhiri argumennya dengan berkata : “Pantes aja orang-orang disini nggak berkembang, abisnya suka memotong pembicaraan dan susah dikasi tau sih”. Lantas sang wanita pun bergegas meninggalkan meja diskusi tersebut sembari mengeluarkan umpatan bernada kekesalan.

    Dalam menjalani aktifitas sehari-hari kita pasti pernah mengalami perbedaan pendapat seperti yang terjadi diatas. Ada kalanya perbedaan pendapat tersebut menghasilkan solusi yang tepat dan ada kalanya perbedaan pendapat tersebut justru menghasilkan emosi yang meningkat.

    Saya sendiri selalu percaya bahwa pada dasarnya setiap orang itu memiliki niatan baik, hanya saja terkadang orang lain disekitarnya yang bisa menafsirkan dengan berbeda-beda. Hanya karena berbeda pandangan dan penafsiran, bukan berarti orang tersebut salah dan memiliki niat yang tidak baik kan? Bukankah pengalaman keseharian yang dialami tiap orang berbeda? Dan pengalaman tersebut yang membentuk pola pikir setiap manusia. Maka sudah pasti dalam hidup kita akan menghadapi yang namanya perbedaan pandangan.

    Perbedaan itu akan selalu ada selama kita berhubungan dengan orang lainnya. kita tidak akan bisa memaksa orang lain agar memiliki pandangan yang sama dengan diri kita. Sehingga yang bisa kita lakukan adalah menyikapi perbedaan pandangan tersebut sehingga tidak menimbulkan perpecahan. Bagi saya pribadi sebuah perbedaan itu tidak selalu mengenai benar atau salahnya sebuah pandangan, melainkan mengenai dua sudut pandang yang saling melengkapi untuk membentuk sebuah kesimpulan.

    Permasalahannya adalah, ketika perdebatan itu muncul seringkali kita sudah tidak bisa berpikir dengan jernih karena emosi dan perasaan mulai menguasai diri. Dampaknya kita mendengarkan argumen itu bukan untuk memahami, melainkan untuk membalas atau menimpali. Akhirnya perbedaan argumen tersebut pun makin melebar dan gagal membentuk suatu sudut pandang baru yang melengkapi.


    Salah satu guru saya pernah berkata. “Ketika kamu sedang berada di tengah dinamika perdebatan di sebuah kelas, pastikan tidak membawa perdebatan tersebut ke dalam perasaan melainkan jadikan setiap perdebatan itu sebagai wahana senam otak yang akan membuat pola pikir kita makin berkembang dan terlatih. Syukurilah setiap perdebatan tersebut sebagai dinamika kelas yang harus kamu lalui agar kamu lebih mampu memahami orang lain disekitarmu.”
  • Bersyukurlah!


    Writer : Helen Sicilia 
    Co Writer : Ivandhana

           Bersyukur berasal dari kata dasar syukur yang artinya perasaan senang atau lega. sedangkan menurut KBBI, BERSYUKUR adalah mengucapkan terimakasih kepada Tuhan. Setiap hari, manusia selalu diliputi dengan berbagai macam jenis perasaan yang mencerminkan dinamika didalam kehidupan, mulai dari keceriaan, kebahagiaan, kesedihan, dan kesulitan. Bagi mereka yang mungkin sedang didalam kondisi yang sulit biasanya memiliki kecenderungan untuk lebih mudah mengeluh, namun bagi yang merasakan keceriaan dan kebahagiaan biasanya lebih mampu mengeluarkan rasa syukur. Hal ini sudah menjadi hal yang lazim didalam aktifitas kita sehari-hari.

           Saya pribadi sepakat bahwa rasa syukur akan mudah dirasakan bila kita berada pada suatu keadaan / kondisi yang baik. kondisi baik yang seperti apa? Kondisi ketika kita diliputi kebahagiaan, kondisi dimana kita merasakan sebuah nikmat didalam kehidupan dan kondisi dimana mungkin kita baru saja mendapatkan pertolongan dari teman-teman terdekat kita. dimana pada saat berada dalam kondisi tersebut pikiran kita jadi lebih bahagia, tenang, yang membuat setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita pun kata-kata yang positif sampai akhirnya berdampak kepada perilaku / tindakan kita yang positif dan membuat diri kita jadi lebih mudah untuk bersyukur atas apa yang terjadi didalam diri kita

           Namun bagaimana ceritanya bila kita sedang didalam kondisi yang sulit, kurang baik atau belum ideal seperti harapan kita? apakah kita boleh mengeluh atau harus memilih untuk bersyukur seperti yang sering saya dengar dari ucapan para motivator di TV? Bagaimana mungkin ketika berada dalam kondisi yang tidak baik kita masih dituntut untuk bisa mengungkapkan rasa syukur? Apa yang perlu kita syukuri didalam kondisi yang tidak baik? Jangankan mengucap syukur didalam kondisi yang kurang baik, bahkan didalam kondisi yg bahagia atau sudah baik pun kadangkala kita masih sering terlupa untuk mengucap rasa syukur, lantas bagaimana bila kita harus bersyukur di tengah kondisi yang kurang baik?

           Bagi saya, rasa syukur itu bukanlah sesuatu yang harus dipengaruhi oleh kondisi disekitar kita. baik kita sedang dalam kondisi sulit ataupun mudah, sedih ataupun bahagia, kita haruslah tetap bersyukur atas setiap kondisi yang ada, karena seharusnya justru rasa syukur yang kita keluarkan itulah yang mempengaruhi cara pandang terhadap kehidupan kita sehingga nantinya sebuah hal negatif mampu kita sikapi dengan positif dari sudut pandang rasa syukur. Apapun kondisinya, seberat apapun keadaannya, seburuk apapun situasinya, tetap sikapi dengan rasa syukur karena rasa syukur itulah yang nanti akan membuat kondisi yang tidak ideal tadi menjadi kondisi yang lebih ideal bagi diri kita karena sebuah rasa syukur seringkali menciptakan penerimaan tentang sebuah kondisi yang belum sesuai harapan. Itulah yang membuat rasa syukur terkadang bisa menjadi obat yang tepat untuk meringankan dan memperbaiki sebuah keadaan

  • Merubah Fokus Hati, Demi Solusi

    "Fokus pada masalah akan membuatmu mendapatkan masalah, Namun fokus pada solusi akan membuatmu mendapatkan lebih banyak peluang untuk memperoleh solusi"



           Saya seringkali mendapatkan sharing pengalaman atau curhatan dari teman-teman saya mengenai permasalahan yang sedang mereka hadapi. Layaknya manusia biasa yang seringkali berinteraksi dengan manusia lainnya, maka permasalahan yang mereka hadapi ini biasanya merupakan masalah dengan orang lain disekitarnya. kondisi ini tentulah merupakan sebuah hal yang wajar bila kita mengingat bahwa manusia itu sangat kompleks dan berbeda antara satu orang dengan yang lainnya, sehingga perbedaan pendapat dan persepsi sangat mungkin terjadi. perbedaan ini juga lah yang menyebabkan pergolakan dan gesekan antar manusia kerap kali terjadi. 

          Pernahkah rekan-rekan pembaca menghadapi masalah yang cukup pelik dengan orang lain disekitar? masalah ini bisa saja dengan teman, sahabat, pacar atau yang lainnya dan rekan-rekan ingin melupakan seseorang tersebut karena masalah tersebut sangat melukai hati. Beberapa dari sahabat saya yang merasakan pengalaman yang melukai hati itu kemudian berupaya melupakan si pembuat masalah yang tujuannya agar dia bisa move on dan lepas dari bayang-bayang seseorang yang menimbulkan luka di hati itu tadi. Harapan mereka, dengan melupakan seseorang tersebut, mereka akan jadi lebih tenang dalam menjalani kehidupannya untuk ke depannya. Namun pertanyaannya adalah sebenarnya, perlukah kita melupakan orang tersebut? Dan mampukah kita dengan mudah melupakan orang tersebut? Saya termasuk orang yang kurang sepakat dengan solusi “melupakan” barusan. Itu sebabnya ketika mendengarkan curhatan teman yang sedang bermasalah dengan orang lain seperti yang saya jelaskan diatas tadi, saya tidak merekomendasikan mereka untuk langsung berupaya melupakan seseorang yang menyebabkan luka di hati itu tadi. 

    Jadi, sebenarnya perlukah kita berupaya melupakan orang-orang yang telah melukai hati kita agar kita bisa segera move on dan menjalani hidup ke depannya dengan tenang?

    Jawaban saya adalah PERLU tapi tidak SELALU. 

          Saya mengatakan "perlu" tapi tak "selalu" karena penting bagi kita untuk melupakan orang-orang yang menyakiti kita di masa lalu agar kita siap melangkah menuju masa depan,  namun tidak semua orang mengetahui cara yang tepat untuk melupakan seseorang yang telah menyakiti hati kita. Beberapa diantara kita yang berusaha melupakan justru terjebak dalam rasa sakit akibat ingatan masa lalu dengan orang tersebut yang artinya membuat “melupakan” bukan solusi, melainkan justru menambah masalah baru di hati bila kita tidak berhati-hati.

    Lantas bagaimana solusinya?

           Solusi yang saya tawarkan adalah, jangan pernah berusaha melupakan, namun rubah fokus dirimu dari hal-hal yang menyakitimu menuju hal-hal yang membuatmu merasa lebih baik. Jika kita berupaya melupakan seseorang, maka sebenarnya ketika itu kita justru akan banyak memikirkan dan mengingat seseorang yang menyakiti kita tadi. Terlebih lagi bila dulunya banyak momen baik atau indah yang dulu pernah dijalani bersama. Melupakan jadi bukan solusi, melainkan menjadi penambah rasa sakit di hati. Jadi, yang saya rekomendasikan disini bukanlah melupakan, melainkan merubah fokus diri. Ada motivator yang pernah berkata dan kali ini akan coba saya kutip mengenai merubah fokus, kira-kira kalimatnya seperti ini “ketika kamu menghadapi sebuah masalah, jangan pernah fokus pada masalah tersebut tapi cobalah untuk fokus pada solusinya”. Ketika kita disakiti oleh seseorang, jangan fokus pada orang tersebut atau rasa sakitnya, namun fokuslah pada solusi atau strategi untuk menghilangkan rasa sakitnya. Strategi ini bisa bermacam-macam, contohnya dengan menyibukkan diri di agenda-agenda positif yang ada disekitar kita, menjalankan hobi yang selama ini belum rutin kita lakukan, bertemu dengan kawan-kawan lama, mencari kawan-kawan baru, pergi untuk travelling ke tempat yang kita sukai dan banyak lagi hal lainnya yang bisa kita lakukan agar kita tidak fokus pada seseorang yang pernah menyakiti kita itu tadi, namun jadi fokus pada hal-hal positif lainnya yang masih dapat kita lakukan untuk menenangkan hati kita dan menjalani hari-hari kita dengan penuh senyuman dan rasa syukur atas setiap nikmat dalam hidup ada.

    Karena masalah itu sebenarnya hanya akan bertambah menyakitkan bila kita hanya fokus pada rasa sakit akibat masalah tersebut namun tidak berupaya mencari obat dari rasa sakit itu sendiri

  • Berpikir negatif demi mencapai hasil positif, mungkinkah?



           Saya punya seorang kawan yang sedang dalam proses pendidikan di sebuah perusahaan. Kawan saya ini sebenarnya cukup pandai, terbukti dengan nilai-nilainya yang tergolong tinggi didalam proses pendidikan tersebut sehingga dia termasuk di dalam peringkat teratas di kelas. namun dia terbiasa berpikir negatif dulu ketika menghadapi sesuatu. Hal ini sudah tertanam dalam dirinya sejak kecil dan tidak ada yang mengingatkan dirinya akan bahaya berpikir negatif ini. Singkat cerita dia akan menghadapi ujian akhir dari proses pendidikan yang sedang dia tempuh tersebut, namun sudah sejak dua minggu sebelum Hari ujiannya akan dilaksanakan, dia sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dia hadapi bila dia gagal ujian nanti.  Pikirannya ini terus menghantui dirinya hingga menjelang detik-detik hari mendekati ujian yang akan menentukan nasibnya itu.  Dia beberapa kali meminta masukan kepada diri saya, namun masukan dari saya untuk menghindari pikiran negatif seakan membentur tembok yang tebal  karena dia merasa bahwa pikiran negatif itulah yang membuatnya sampai bisa dititik sekarang ini. Dia menganggap bahwa pikiran negatif itu menjaga dirinya untuk tetap berhati-hati. Singkat cerita, akhirnya pada saat ujian, rekan saya ini akhirnya benar-benar gagal. Ketika saya mencoba bertanya perasaannya ketika gagal itu, satu hal yang dia katakan pada saya adalah bahwa dia sudah menduga bahwa dia memang akan gagal sebelumnya.

           Pertanyaan saya ketika itu pada diri saya sendiri adalah : jadi rekan saya ini menduga kegagalannya sendiri? perlukah memperkirakan atau menduga kegagalan diri kita sendiri? apakah tidak lebih baik bila yang kita lakukan justru mencoba memperkirakan kesuksesan atau keberhasilan kita?

           Saya pernah melihat video motivasi dari pak Mario Teguh. Pesannya kira-kira begini : Jika kita ingin melempar, maka pikirkan kita mengenai sasaran. Jangan pikirkan kita akan meleset, karena jika kita akan melempar namun yang kita pikirkan adalah kita akan meleset ya kita akan benar-benar meleset.  Sama halnya dengan ketika kita berpikir negatif,  Bila kita membiasakan berpikir negatif dalam menghadapi sebuah kondisi, maka yang cenderung akan terjadi adalah hal yang negatif itu. Karena tanpa sadar dalam pikiran kita cenderung makin dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif yang kemudian akan menjadi pembenaran bagi diri kita ketika hal negatif itu terjadi. Ketika kita berpikir negatif, sebenarnya kita sedang mempersiapkan diri kita untuk menjadikan hal negatif itu menjadi nyata. Kisah kawan saya tadi itu salah satu contohnya.

    Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa menghindari pikiran negatif

           Cara yang paling utama adalah dengan “Jangan berpikir negatif”. hehehe. simpel kan? Jika kita ingin sukses, ya fokuslah pada pikiran untuk sukses, jika kita ingin berhasil ya fokus hanya pada pikiran berhasil. Karena fokus pada pikiran untuk berhasil akan membuat diri kita merasa lebih tertantang dan nyaman untuk mengeluarkan kemampuan dan usaha terbaik kita. Beda ceritanya ketika kita cenderung berpikir negatif, kita akan merasa tidak nyaman, takut dan bahkan pesimis sehingga tanpa disadari menghambat diri kita untuk mampu mengeluarkan usaha terbaik kita

         Yang kedua adalah dengan mencoba berpikir tidak hanya dari satu sisi. Ketika kita berusaha sebenarnya ada dua kemungkinan dari usaha kita, yaitu usaha kita berhasil ataupun gagal. Kemungkinan ini sama besarnya yang itu artinya kemungkinan untuk berhasil dan gagal itu sama besarnya, tinggal kita mau memaksimalkan usaha kita atau tidak untuk meraihnya. Jadi, jangan sampai kita berpendapat bahwa dalam usaha kita itu pasti akan berujung pada kegagalan atau berpikir negatif terlebih dahulu sebelum mengeluarkan usaha terbaik yang kita lakukan karena berhasil atau gagal itu sendiri sebenarnya faktor penentunya adalah usaha yang kita berikan dan maksimalkan.

          Dan yang terakhir adalah dengan cara fokus hanya pada usaha yang bisa dilakukan, jangan berpikir kegagalan dulu. Setidaknya maksimalkan usaha yang bisa kita lakukan, masalah hasil nanti ya serahkan pada Tuhan. Kalaupun ternyata usaha kita itu tetap berujung kegagalan, maka selalu ingatlah bahwa manusia itu memang tempatnya berupaya dan berusaha, namun masalah hasilnya bukan jadi wewenang manusia, melainkan wewenang Tuhan yang menciptakan segalanya. Setidaknya dari kegagalan itu ada pembelajaran yang bisa kita ambil dalam rangka melanjutkan usaha kita selanjutnya.


    Jadi, Kita harus ingat bahwa manusia sepintar apapun itu tetaplah manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Yaitu Keterbatasan dan ketidakmampuan untuk memastikan hasil dari sebuah proses yang telah manusia lakukan. Jadi jangan sampai kita berpikir negatif dan merasa bahwa nanti kita akan gagal sebelum kita mencoba berupaya, karena itu sama saja kita berupaya menyaingi Tuhan sebagai penentu hasil usaha manusia di dunia.
  • Quotes For You

    Kesalahan adalah bahan bakar utama untuk sebuah pembelajaran ~ivandhana~

    ADDRESS

    Jl Smapal No 53, Serpong, Tangerang Selatan

    EMAIL

    ivandhana@yahoo.com
    ivandhana@bambubiru.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    08990567176
    017 775362 13