Tampilkan postingan dengan label Kebahagiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebahagiaan. Tampilkan semua postingan
Cinta itu bukanlah tentang bagaimana menafsirkan sebuah rasa. Melainkan cinta juga tentang kerelaan untuk menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan diri kita untuk kepentingan yang jauh lebih besar nantinya.
“Entah kenapa perasaanku ini sudah pas banget sama dirinya.”
“Aku nggak mau kalo nggak sama kamu pokoknya.”
“Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
Pernahkah kita mendengarkan beberapa kalimat diatas dalam aktifitas sehari-hari kita? Walau terdengar berlebihan, namun beberapa kalimat diatas sering kita dengar di beberapa sinetron televisi yang membahas tentang percintaan remaja. Topik tentang percintaan memang menjadi salah satu topik yang menarik untuk ditayangkan melalui televisi karena cukup banyak peminatnya, terutama dari generasi muda kita.
Sayangnya minat yang besar dari masyarakat tentang topik percintaan ini tidak disertai dengan tanggung jawab dalam hal penyediaan konten. Minat besar yang harusnya digunakan untuk konten-konten yang positif dan mendidik, justru akhirnya dimanfaatkan untuk dieksplor lebih dalam.
Akhirnya banyak remaja yang salah dalam menafsirkan sebuah rasa. Dampaknya, membuat para remaja ini terlalu fokus pada perasaan mereka masing-masing seperti yang digambarkan dalam kalimat-kalimat di awal tadi. Hal ini akhirnya menghilangkan kepekaaan mereka untuk memahami rasa cinta dalam kaitannya dengan kepentingan lain yang jauh lebih besar.
Lantas bagaimana seharusnya kita memaknai sebuah rasa? Mungkin kisah pejuang nasional Aceh dibawah ini dapat menjadi salah satu referensi tentang bagaimana kita menyikapi sebuah rasa
Tjoet Nyak Meutia atau sering disebut juga Cut Mutia adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Ia menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.
Awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya.
Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nagroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya dibawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan.
Tjoet Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukkannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Tjoet Meutia bersama pasukkannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu Tjoet Meutia gugur.
Kerelaan Cut Meutia mengikuti wasiat suaminya untuk menikah kembali dan meneruskan perjuangannya mengajarkan satu hal penting bagi diri kita. Bahwa ternyata rasa cinta tidak hanya tentang sebuah rasa antara dua orang saja, melainkan juga mengenai kerelaan untuk menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan demi masa depan.
Pernikahan yang dilakukan kembali oleh Cut Meutia sepeninggal suaminya bukan mengindikasikan bahwa Cut Meutia tidak mencintai suaminya tersebut. Namun justru sebagai simbol bahwa sebesar apapun cinta yang mereka berdua rasakan, tetaplah harus dibangun diatas kesadaran tentang kepentingan yang jauh lebih besar, yaitu perjuangan melawan penjajah yang masih harus mereka tuntaskan.
Maka, kita boleh saja mencintai dan meluapkan rasa yang kita punya, namun jangan sampai hal tersebut dilakukan berlebihan yang akhirnya membuat kita melupakan hal-hal yang lebih besar disekitar kita.
Cinta selalu memiliki energinya tersendiri untuk membuat diri kita bersedia melakukan segalanya, terutama demi wanita yang kita cintai. Tapi, benarkah situasinya selalu seperti itu? Benarkah demi seorang wanita yang dicintai, seorang pria senantiasa bersedia melakukan segalanya? Mungkin kisah cinta Bung Hatta ini dapat dijadikan inspirasi tentang bagaimana kita memaknai sebuah cinta.
Kisah cinta Bung Hatta dan istrinya, Rahmi, tergolong unik. Disebut unik karena kisah cinta mereka berdua ini tumbuh di tengah kondisi negara yang belum jelas dan sedang dalam proses memperjuangkan hak kemerdekaannya. Bung Hatta sendiri sebenarnya di masa itu tidak pernah memikirkan tentang perasaannya kepada seorang wanita karena sibuk mengurusi pergerakan nasional dalam rangka kemerdekaan Indonesia.
Berbagai kesibukan yang harus dijalani, ditambah lagi harus keluar masuk penjara, hingga diasingkan ke Digoel memang membuat Bung Hatta akhirnya terlambat menikah. Beliau menikahi Rahmi Hatta pada 18 November 1945, saat itu Bung Hatta berusia 43 tahun. Jadi, saat Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI bersama Bung Karno, dan ditetapkan sebagai wakil presiden RI, beliau masih berstatus bujangan.
Sejak awal, Bung Hatta sangat serius dengan cita-citanya. Semasa kuliah di Belanda, dia sangat rajin belajar, membaca dan menulis. Pernah seorang gadis Polandia yang cantik jelita menggodanya, namun Hatta tak tertarik. Jika Patih Gajah Mada memiliki Sumpah Palapa, yakni tidak akan makan buah palapa (simbol dari kenikmatan hidup) sebelum nusantara bersatu, Bung Hatta pun bertekad, tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Hal inilah yang membuat nyaris semasa mudanya, Bung Hatta tidak pernah memikirkan tentang hubungan percintaan dengan wanita secara serius.
Coba kita bandingkan dengan kondisi generasi muda kita saat ini. Masih banyak pemuda-pemudi di sekitar kita yang terlalu mudah merasakan cinta kepada seseorang namun tidak benar-benar mencintai negerinya. Alhasil aktifitas kesehariannya hanya dihabiskan demi seseorang namun dirinya tidak memperdulikan perkembangan negara atau bahkan orang lain di sekitarnya sendiri. akhirnya muncul istilah cinta itu buta. Karena setelah merasakan cinta tersebut, seakan-akan kita tidak mampu melihat hal lain selain rasa cinta pada seseorang itu sendiri.
Ada salah satu kutipan menarik terkait cinta itu sendiri, yaitu “cinta terbaik itu tidak pernah membuat kita buta, melainkan cinta terbaik justru mampu membuat kita lebih memahami lingkungan disekitar kita dengan lebih utuh, mendewasakan pemikiran kita dan membuat kita lebih peka terhadap orang lain disekitar kita.” Sebagai seorang pria sangatlah wajar bila Bung Hatta memikirkan seorang wanita, namun beliau tidak ingin pikirannya tersebut membuat fokus dan kecintaannya teralihkan dari hal yang saat itu lebih penting, yaitu kemerdekaan Indonesia.
Dari kisah Bung Hatta diatas, kita bisa belajar bahwa kita tidak bisa memaknai perasaan cinta secara sepotong-potong saja. Kita boleh mencintai seseorang, tapi kita juga tidak bisa dibutakan oleh rasa cinta kita itu tadi. Kecintaan kita harus lah di salurkan dengan tepat dan demi kemajuan banyak pihak dan bukan hanya demi kepentingan pribadi diri kita sendiri. jika semua orang hanya sibuk memikirkan cinta pribadinya, siapa yang akan memikirkan tentang rasa cinta pada negaranya sehingga menimbulkan tekad untuk memajukan negeri ini?
Yang mampu mengubah kehidupan seorang manusia, bukanlah manusia lain disekitarnya, melainkan pribadi manusia itu sendiri. Pesan inilah yang saya tangkap dari film terbaru Sahrukh Khan yang berjudul Dear Zindegi yang baru saja saya tonton beberapa jam yang lalu. Dilihat dari tampilan poster filmnya, awalnya saya menebak bahwa film ini pastilah penuh dengan adegan percintaan. Namun ternyata setelah 140 Menit menonton filmnya secara langsung, saya kemudian menyimpulkan bahwa pendapat saya tidaklah sepenuhnya tepat karena ternyata film ini menyuguhkan sesuatu yang berbeda
Alur cerita film Dear Zindagi berkisah tentang kegalauan Kaira, seorang sinematografi muda, cantik, berdarah India. Kaira sudah empat kali pacaran dan menjalin hubungan dengan para kekasihnya, tetapi kaira merasa kesulitan menemukan kenyamanan.
Setiap hubungan yang dbangun bersama kekasihnya selalu berujung pada kegagalan. Hal ini membuat Kaira stress, frustasi dan merasa hidupnya tidak adil karena disisi lain, hubungannya dengan keluarganya pun memburuk. Di tengah kegalauannya itu, Kaira kemudian memutuskan berkonsultasi intensif dengan seorang dokter dan terapis bernama Jehangir Khan.
Alih-alih bersikap sebagai seorang terapis, Khan justru bersikap sebagai seorang sahabat yang dengan setia mendengarkan Kaira dalam setiap sesi konsultasinya. Seminggu sekali, Kaira bertemu dan berkonsultasi dengan Khan untuk menyembuhkan penyakitnya. Namun Khan memiliki cara yang unik dalam menangani orang-orang dalam sesi therapy nya, termasuk sesinya dengan Kaira.
Dalam setiap sesi, Khan sama sekali tidak menggurui Kaira ataupun bersikap layaknya seorang dokter pada umumnya. Khan hanya menjadi pendengar yang baik, memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengubah sudut pandang Kaira dalam menjalani kehidupannya dan sesekali Khan juga berbagi beberapa kisah dan cerita agar Kaira mengambil pelajaran dari kisah tersebut
Singkat cerita, akhirnya dari pertayaan-pertanyaan yang kerap diberikan oleh Khan ini, akhirnya sudut pandang Kaira terhadap kehidupannya berubah 180 derajat. Dari yang awalnya memandang kehidupannya dengan sinis dan penuh emosi akibat kisah pahit di masa lalunya, Kaira kemudian belajar bahwa untuk memulai sesuatu yang baru, dia harus berani memaafkan masa lalu dan memutuskan untuk menjalani hidup dengan bahagia di masa kini.
Untuk membantu mengubah kehidupan orang lain disekitar kita, terkadang kita merasa bahwa itu membutuhkan kata-kata bijak dan solusi yang benar-benar jitu yang bisa kita berikan. Namun hal ini tidaklah sepenuhnya tepat karena dalam kisah diatas, ternyata pertanyaan-pertanyaan yang menggugah pemikiran justru ampuh untuk mengubah orang tersebut. Inilah yang disebut dengan metode Coaching yang seringkali mampu mengubah kehidupan.
Maka, ketika dirimu menemukan orang lain disekitar yang membutuhkan pertolongan untuk menghadapi masalah dalam kehidupannya, tidak perlu bingung mencari solusi dan kalimat bijak yang tepat karena kadang hanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengubah sudut pandang ini, kita akan mampu mengubah kehidupannya.
Perkembangan itu bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak buku yang kita baca, melainkan juga ditentukan oleh seberapa besar kita bersedia mengakui kekurangan yang kita punya. Pernahkah kita bertemu seseorang yang dengan mudahnya menyalahkan orang lain atas sebuah kondisi? Sebut saja namanya Adi.
Di lingkungannya, dia sering dijuluki sebagai Mr Right. Julukan ini muncul karena kebiasaan buruknya yang suka menyalahkan orang lain ketika dirinya melakukan kesalahan. ketika ada masalah yang dihadapi dan ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan yang telah diperkirakan oleh dirinya, Adi ini lebih suka melihat kesalahan orang lain di sekitarnya ketimbang melakukan introspeksi untuk dirinya sendiri.
Beberapa kali, teman-temannya memberikan nasehat kepada Adi agar sesekali bersedia mendengarkan masukan dari orang lain, namun tampaknya nasehat dari teman-temannya ini tidak pernah didengar. Padahal ketika kita tidak bersedia mendengarkan sebuah masukan, Sebenarnya kita juga sedang menutup pintu perkembangan bagi diri kita sendiri.
Salah satu hal yang turut menentukan tingkat perkembangan seorang manusia didalam menjalani kehidupannya adalah penerimaan terhadap sebuah kekurangan. Bagaimana seseorang itu menerima dan merespon kekurangan dirinya akan mempengaruhi tingkat perkembangan orang tersebut. Ketika seseorang menerima kekurangan yang ada dalam diri dan menyadari bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk melakukan kesalahan, maka ketika itulah seorang manusia tidak akan dengan mudah menyalahkan lingkungan.
Namun, ketika seseorang cenderung lebih suka menyalahkan lingkungan atas apa yang terjadi didalam dirinya seperti di kisah Adi tadi, sebenarnya orang tersebut sedang merasa menjadi seseorang yang paling benar didalam sebuah kondisi. Perasaan paling benar inilah yang jika tidak disikapi dengan bijak justru akan menutup pintu pembelajaran bagi diri kita.
Karena dengan merasa paling benar, kita cenderung merasa paling pintar yang seringkali justru membuat kita tidak memahami pentingnya sebuah pembelajaran. Padahal, pembelajaran adalah salah satu faktor penting yang membentuk sebuah perkembangan. Seperti pidato Steve Jobs yang berkata “stay hungry & stay Foolish” yaitu tetaplah merasa lapar dan tetaplah merasa bodoh, agar dirimu senantiasa memahami pentingnya pembelajaran bagi perkembanganmu.
Ada yang sudah menonton film Shahrukh Khan yang berjudul “FAN” yang dirilis awal tahun 2016 lalu? Film yang menceritakan tentang perjuangan seorang fans bertemu artis idola nya ini memiliki alur cerita unik dan terbilang tidak biasa. Disebut tidak biasa, karena film ini menggambarkan hubungan yang kompleks antara seorang artis dan fans nya, yaitu ketika cinta dan hasrat pada seorang idola berubah menjadi obsesi yang justru membahayakan
Fan berkisah tentang Gaurav Chandna, seorang pemuda di Delhi yang sangat memuja bintang Bollywood bernama Aryan Khanna (yang dibintangi oleh shahrukh Khan). Kecintaannya pada sang idola membuat pemuda ini terobsesi untuk bisa bertemu langsung dengan sang idola nya tersebut. Kemampuan Gaurav meniru Aryan yang didukung wajahnya yang cukup mirip membuatnya berhasil memenangkan sebuah kompetisi. Hadiah dari kompetisi ini kemudian digunakan untuk pergi ke Mumbai demi bertemu secara langsung di hari ulang tahun sang pujaannya tersebut.
Kecintaan Gaurav terhadap Aryan memang begitu besar, sampai-sampai ia tak terima ketika sang idola dituduh berlaku kasar pada salah satu aktor lain di salah satu pemberitaan media. Kasus ini mendorong Gaurav melakukan tindakan ekstrem dengan menyandera dan mengancam sang aktor ini, demi memulihkan nama Aryan.
Namun, respons Aryan terhadap semua itu tak menggembirakan Gaurav. Karena sang idola justru menegur sang fans untuk menghentikan aksi nekatnya yang dianggap melanggar hukum tersebut. Akhirnya, Gaurav pun makin terobsesi, namun kali ini untuk menjatuhkan popularitas Aryan yang dianggap sudah menghancurkan hati fans nya
Film Fan seakan menggambarkan bahwa terkadang kecintaan yang berlebihan terhadap sesuatu itu dapat membuat diri kita melupakan logika kita dan membuat kita melakukan hal-hal yang terlihat tidak mungkin untuk kita lakukan. Bahkan tak jarang, rasa cinta yang berlebihan menimbulkan kenekatan pada diri kita untuk melakukan banyak hal yang tergolong tidak biasa.
Sama seperti ketika kita menyukai seseorang atau sesuatu. Terkadang tanpa kita sadari, perasaan suka tersebut membuat kita bersedia melakukan apapun demi mendapatkan sesuatu itu. Inilah yang kemudian kita harus hindari. Kita boleh saja memiliki perasaan suka terhadap sesuatu, namun jangan sampai rasa suka tersebut jadi berlebihan yang membuat kita melakukan hal-hal yang justru merugikan diri kita sendiri sebagai seorang manusia.
Bukankah pada dasarnya segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bagi kita?
Ada yang pernah mendengar nama Nick Vujicic? Nick Vujicic lahir di kota Melbourne, pada tanggal 4 Desember 1982. Pertama kali melihat anaknya lahir, ayah dan ibu Nick terkejut karena ia berbeda dengan bayi-bayi lainnya. Ia lahir dengan gangguan Tetra-Amelia langka, tanpa tangan, tanpa kaki, dan hanya memiliki telapak kaki kecil dengan dua jari yang muncul keluar dari paha. Memiliki tubuh yang tidak memiliki tangan dan kaki telah membuat nick terlihat aneh dan sering di olok olok oleh orang lain.
Pada saat kecil, Nick sempat kehilangan semangat hidupnya dan mencoba untuk melakukan upaya bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya ke bak mandi, namun upaya itu gagal. Beberapa bulan kemudian, di suatu pagi ia terbangun dan secara mendadak ingin menghitung apa saja anugerah yang sudah diterima olehnya hingga pagi itu. Perhitungan yang dilakukannya ini kemudian membuat Nick teringat keindahan di pagi tersebut yang akhirnya membuatnya berterima kasih kepada Tuhan atas kehidupan yang dia rasakan dan berhenti menginginkan kematian.
Dari Nick Vujicic, kita dapat belajar bahwa apakah kita akan termotivasi menjalani hidup atau sebaliknya yaitu merasa berat menjalani hidup itu sangat bergantung pada pilihan yang kita ambil sendiri. Fokus pada kekurangan dan masalah yang kita miliki saat ini hanya akan membuat kita menjalani hari dengan perasaan yang penuh dengan tekanan, dan begitu pula sebaliknya, fokus pada hal yang mampu kita syukuri saat ini akan membuat kita bersemangat dan termotivasi untuk menjalani kehidupan kita. Artinya kemunculan sebuah motivasi dan semangat itu kita sendirilah yang menentukan dan tidak selalu dipengaruhi oleh lingkungan.
Jika memang diri kita ingin merasakan dan menjalani hari dengan penuh tekanan, maka silahkan untuk fokus pada kesulitan dan permasalahan yang kita rasakan saat ini. Dan begitu juga sebaliknya, Jika mulai detik ini kita telah memilih untuk terus bersemangat menjalani hari, maka yang harus kita lakukan adalah fokus pada keindahan dan anugerah yang telah kita miliki saat ini dan bersyukur atas hal itu walaupun di tengah kendala yang ada, karena dengan rasa syukur itulah kita akan mampu merubah kendala yang ada menjadi sesuatu yang memiliki makna dan meningkatkan motivasi kita.
Jadi, pilih yang mana??
Setting kebahagiaan dalam hal-hal yang sederhana? Artinya menurunkan standar kebahagiaan kita donk? Tanya seorang sahabat kepada diri saya setelah membaca tulisan saya tentang standar kebahagiaan minggu lalu. Pertanyaan yang menarik dan sepertinya akan saya jawab pada tulisan saya kali ini
Menurunkan standar kebahagiaan bukan berarti kita dilarang untuk melakukan setting kebahagiaan pada sesuatu yang menarik untuk kita miliki dan menggantinya dengan melakukan setting kebahagiaan kita pada hal-hal yang biasa saja sehingga hidup kita jadi tidak berwarna
Menurunkan standar kebahagiaan juga bukan berarti membuat kita akhirnya tidak termotivasi lebih untuk mencapai sesuatu yang besar karena kita sudah bahagia mendapatkan hal-hal yang sederhana.
Karena upaya menurunkan standar kebahagiaan itu bagi saya tetap harus dibarengi dengan meningkatkan standar pencapaian diri kita. Artinya kita boleh saya bahagia dengan hal-hal yang sederhana di sekitar kita seperti bahagia bisa bersama keluarga, bahagia bisa berbagi pada orang lain, bahagia bisa bertemu kawan. Namun di sisi lain kita juga harus termotivasi mencapai sesuatu yang besar dan menjadikannya target pribadi yang harus kita capai. Sehingga akhirnya proses untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan tersebut tetap kita jalani dengan penuh kebahagiaan
Namun, banyak yang menjalani kehidupan dengan menggunakan standar yang terbalik. Mereka menjalani kehidupan dengan menaikkan standar kebahagiaan dan menurunkan standar pencapaian. Akhirnya dalam hidupnya mereka hanya fokus agar bagaimana mereka bisa bahagia dengan cara mengejar kebahagiaan melalui pencapaian yang tinggi seperti punya rumah, mobil, bisa hidup kaya dan lainnya
Padahal untuk bisa mencapai hal-hal tersebut dibutuhkan waktu yang lama dan proses yang cukup panjang. Apakah kita mau menjalani proses menuju pencapaian yang akan menghabiskan waktu tersebut dengan perasaan tidak bahagia? Atau mau tergerak untuk terus bersemangat mengejar rumah tersebut dan menjadikannya standar hidup yang ingin kita capai sembari tetap bahagia menjalani prosesnya dengan hal-hal sederhana dalam hidup kita?
Tentu kita sendirilah yang bisa memilih diantara keduanya.......
Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh apa yang mampu kita miliki, melainkan ditentukan oleh apa yang mampu kita syukuri dalam hidup ini.
Di suatu pagi, terjadi diskusi antar dua orang sahabat. Tampaknya kedua sahabat ini sedang serius membicarakan tentang minat dan aktifitas salah seorang diantara mereka
“Kenapa kamu suka melakukan kegiatan sosial? Bukannya hal itu cukup menyita waktu libur dan tidak ada untungnya buatmu ya?” Tanya salah seorang diantaranya.
“Karena aku selalu merasa bahagia jika bisa membantu orang lain disekitarku. Kan kebahagiaan itu tidak selalu ditentukan oleh keuntungan materi yang kita dapatkan”. Jawab rekannya tadi.
Kebahagiaan adalah jangkar dari setiap emosi dalam diri kita. Perasaan senang, sedih, gelisah di hati kita itu muncul berdasarkan pada standar kebahagiaan yang kita tentukan. Jika kita meletakkan standar kebahagiaan tersebut dalam hal-hal yang sederhana, maka kebahagiaan kita pun akan ditentukan oleh hal yang sederhana.
Di sisi lain, meletakkan standar kebahagiaan kita di tempat yang tinggi dapat berdampak pada kebahagiaan yang hanya mampu kita rasakan bila kita telah mencapai sesuatu yang tinggi tersebut. Hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa hal-hal sederhana di sekitar kita nantinya tak akan bisa membuat kita bahagia.
Kenapa masih ada orang di sekitar kita yang merasa kesulitan untuk bahagia? Hal ini bisa jadi karena kebanyakan orang meletakkan standar untuk kebahagiaannya di tempat yang tinggi. Salah satu contohnya adalah kita cenderung merasa bahagia bila mampu membeli sesuatu yang kita inginkan seperti barang-barang mewah, mobil, rumah dll. Sekilas memang kondisi tersebut terlihat wajar dan banyak orang lain yang beranggapan seperti itu. Namun kondisi tersebut memiliki potensi yang perlu kita waspadai, yaitu dapat membuat kita merasa kesulitan dan stress ketika menghadapi kendala dalam upaya untuk mencapai kebahagiaan tersebut
Maka, yang paling tepat untuk kita lakukan adalah meletakkan standar kebahagiaan kita di tempat yang sederhana sembari meletakkan standar impian yang tinggi sehingga kita tetap tergerak untuk membuat pencapaian yang tertinggi dan disisi lain kita tidak perlu mengalami kesulitan untuk mendapatkan kebahagiaan yang kita harapkan.
Ingin ngobrol lebih jauh bersama saya? silahkan kunjungi FB/Path/Instagram/Twitter : @Ivandhana
Merasa bahwa
hidup orang lain lebih mudah dan lebih bahagia ketimbang kehidupan kita
berpotensi membuat diri kita lupa bersyukur. Secara tidak langsung itu
menyebabkan kita merasa bahwa hidup kita sendirilah yang paling sulit.
Dampaknya bisa membuat diri kita lalai untuk mensyukuri hidup yang sudah kita
jalani sejauh ini.
Pengalaman saya sejauh ini menyimpulkan bahwa tidak ada hidup yang mudah. Siapapun dia, selalu memiliki masalah dalam kesehariannya. Hanya saja kadar masalah tersebut berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Ada yang masalahnya cukup besar, ada pula yang terlihat ringan, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Terkadang, bisa jadi, sebuah masalah besar bagi seseorang belum tentu masalah besar pula untuk yg lainnya. Namun, tetap saja, setiap orang memiliki masalahnya masing-masing
Kadang kita melihat seseorang yang tampaknya tidak memiliki masalah dalam kehidupannya. Namun itu karena kita hanya melihat sekilas saja kehidupannya. Akan berbeda keadaaanya jika kita melihatnya secara utuh. Sama halnya dengan kesuksesan, banyak yang "salah melihat" hanya karena memandang pada sepotong-sepotong, pada bagian suksesnya saja. Baca tulisan saya sebelumnya mengenai kesuksesan di link ini
Sebagai manusia biasa, seringkali kita memang lebih suka melihat dan menilai kehidupan seseorang dari satu bagian saja. Dan fatalnya lagi, bagian yang kita lihat terkadang adalah sisi “enak” nya saja. Kita tidak mencoba melihat kehidupan seseorang secara keseluruhan yang sudah pasti juga akan ada sisi sulitnya. Itu sebabnya kita melihat seakan-akan hidup orang lain lebih mudah ketimbang hidup kita
Lantas apa yang harus kita lakukan agar tidak melihat hidup orang hanya dari sisi enaknya saja yang artinya itu akan membuat diri kita cenderung lupa untuk bersyukur?
Pertama, kita harus mulai belajar untuk memahami bahwa setiap manusia itu pasti hidup dengan masalah. Meskipun hidup seseorang terkesan mudah, kita harus sadar bahwa itu mungkin hanya karena saat ini kita hanya melihat dari sisi enaknya saja dan belum melihat dari sisi lainnya yang bisa saja penuh dengan kesulitan.
Kedua, ketika kita melihat kehidupan seseorang yang tampaknya lebih mudah ketimbang hidup kita, jangan terburu-buru menyimpulkan. Coba amati kehidupannya secara keseluruhan dan lihat kehidupannya dengan lebih dekat. Disitulah kita akan menemukan sisi lain dari sulitnya kehidupan seseorang yang bisa kita jadikan bahan pembelajaran
Setelah melihat kehidupan orang lain secara keseluruhan, selanjutnya coba bandingkan dengan kehidupan kita saat ini dan coba temukan momen indah yang perlu kita syukuri didalam kehidupan kita yang mungkin selama ini sudah kita rasakan namun kita lupakan sejenak karena kita terlalu “silau” melihat kehidupan orang lain. Yakinlah selalu bahwa kehidupan kita saat inilah yang terbaik buat diri kita. Karena, belum tentu kehidupan indah yang orang lain miliki itu juga akan menjadi indah ketika itu menjadi bagian kehidupan kita saat ini. Bila kita bahagia melihat kehidupan seorang pilot yang berkecukupan dan bisa rutin terbang di awan, bukan berarti kita juga akan bahagia ketika kita nanti benar-benar menjadi seorang pilot yang hidupnya penuh dengan risiko, bukan?
Karena sesungguhnya rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau karena kita sendiri yang mengarahkan sudut pandang kita untuk melihat sisi hijaunya saja. Kita suka lupa bahwa di bagian lain mungkin tidak sehijau itu.
Pengalaman saya sejauh ini menyimpulkan bahwa tidak ada hidup yang mudah. Siapapun dia, selalu memiliki masalah dalam kesehariannya. Hanya saja kadar masalah tersebut berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Ada yang masalahnya cukup besar, ada pula yang terlihat ringan, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Terkadang, bisa jadi, sebuah masalah besar bagi seseorang belum tentu masalah besar pula untuk yg lainnya. Namun, tetap saja, setiap orang memiliki masalahnya masing-masing
Kadang kita melihat seseorang yang tampaknya tidak memiliki masalah dalam kehidupannya. Namun itu karena kita hanya melihat sekilas saja kehidupannya. Akan berbeda keadaaanya jika kita melihatnya secara utuh. Sama halnya dengan kesuksesan, banyak yang "salah melihat" hanya karena memandang pada sepotong-sepotong, pada bagian suksesnya saja. Baca tulisan saya sebelumnya mengenai kesuksesan di link ini
Sebagai manusia biasa, seringkali kita memang lebih suka melihat dan menilai kehidupan seseorang dari satu bagian saja. Dan fatalnya lagi, bagian yang kita lihat terkadang adalah sisi “enak” nya saja. Kita tidak mencoba melihat kehidupan seseorang secara keseluruhan yang sudah pasti juga akan ada sisi sulitnya. Itu sebabnya kita melihat seakan-akan hidup orang lain lebih mudah ketimbang hidup kita
Lantas apa yang harus kita lakukan agar tidak melihat hidup orang hanya dari sisi enaknya saja yang artinya itu akan membuat diri kita cenderung lupa untuk bersyukur?
Pertama, kita harus mulai belajar untuk memahami bahwa setiap manusia itu pasti hidup dengan masalah. Meskipun hidup seseorang terkesan mudah, kita harus sadar bahwa itu mungkin hanya karena saat ini kita hanya melihat dari sisi enaknya saja dan belum melihat dari sisi lainnya yang bisa saja penuh dengan kesulitan.
Kedua, ketika kita melihat kehidupan seseorang yang tampaknya lebih mudah ketimbang hidup kita, jangan terburu-buru menyimpulkan. Coba amati kehidupannya secara keseluruhan dan lihat kehidupannya dengan lebih dekat. Disitulah kita akan menemukan sisi lain dari sulitnya kehidupan seseorang yang bisa kita jadikan bahan pembelajaran
Setelah melihat kehidupan orang lain secara keseluruhan, selanjutnya coba bandingkan dengan kehidupan kita saat ini dan coba temukan momen indah yang perlu kita syukuri didalam kehidupan kita yang mungkin selama ini sudah kita rasakan namun kita lupakan sejenak karena kita terlalu “silau” melihat kehidupan orang lain. Yakinlah selalu bahwa kehidupan kita saat inilah yang terbaik buat diri kita. Karena, belum tentu kehidupan indah yang orang lain miliki itu juga akan menjadi indah ketika itu menjadi bagian kehidupan kita saat ini. Bila kita bahagia melihat kehidupan seorang pilot yang berkecukupan dan bisa rutin terbang di awan, bukan berarti kita juga akan bahagia ketika kita nanti benar-benar menjadi seorang pilot yang hidupnya penuh dengan risiko, bukan?
Karena sesungguhnya rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau karena kita sendiri yang mengarahkan sudut pandang kita untuk melihat sisi hijaunya saja. Kita suka lupa bahwa di bagian lain mungkin tidak sehijau itu.
![]() |
Masih ingatkah kita tentang cita-cita atau impian masa kecil? Mungkin impian menjadi dokter, polisi, tentara pernah singgah di benak kita. Seiring berjalannya waktu dan disebabkan oleh berbagai faktor, impian masa kecil kita makin lama makin kandas dan menghilang tak berbekas yang akhirnya membuat kita menjalani kehidupan yang jauh berbeda.
Beberapa kali, di tengah sesi training yang saya jalankan, saya bertanya kepada peserta tentang apa impian mereka. Rata-rata peserta training yang saya tanya terkesan agak sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal berbeda ketika saya mencoba bertanya kepada anak-anak usia TK atau SD. Anak-anak tersebut seakan memiliki semangat dan antusiasme untuk menjawabnya. Kondisi ini tentunya sangat disayangkan, karena bagi saya pribadi dengan memiliki impian sebenarnya kita memiliki modal awal untuk mencapai apa yang jadi tujuan kita dan selangkah lebih dekat untuk mendapatkan kesuksesan yang kita impikan
Saya pernah membaca suatu kutipan yang mengatakan bahwa “impian adalah nyawa sebuah kesuksesan”. Bagi saya, dengan memiliki impian, hidup kita akan jadi lebih terarah dan kita memiliki tujuan didalam kehidupan. Namun pengalaman saya beberapa waktu lalu ketika membaca salah satu hasil survey tentang impian ternyata membuka pandangan saya lebih luas, yaitu impian tidak hanya merupakan nyawa dari kesuksesan, melainkan juga merupakan salah satu faktor pemicu lahirnya kebahagiaan.
Survei dari Global Dreams Index Survey tahun 2016 mengungkapkan bahwa separuh populasi perempuan di dunia menyerah akan mimpi-mimpi mereka dan tidak puas atas kehidupan yang mereka jalani saat ini. Dari hasil survei terhadap 5.400 perempuan di 14 negara, 3 dari 5 perempuan tidak mengejar mimpi atau pun tidak puas dengan kehidupan mereka. Bahkan di Asia, banyak perempuan yang kurang puas dengan kehidupan saat mereka tumbuh dewasa.
Ada beberapa kendala utama dalam mewujudkan mimpi masa kecil para perempuan Indonesia, yaitu terbatasnya dukungan finansial, rasa takut untuk keluar dari zona nyaman, dan takut untuk tidak mencapai definisi sukses pada umumnya. Namun, uniknya sebanyak 82 persen perempuan di seluruh dunia yang mengejar mimpinya merasa telah puas dengan hidupnya dan mereka sangat yakin dengan definisi sukses secara personal, yaitu melakukan sesuatu yang dicintai.
Artinya seseorang yang memiliki impian yang sedang maupun telah selesai diperjuangkan memiliki kemungkinan lebih besar untuk hidup lebih bahagia ketimbang orang-orang yang tidak pernah membuat impian semasa hidupnya. Mengapa bisa demikian? pernahkah rekan-rekan merasa menjalani rutinitas yang hanya itu-itu saja cenderung membuat diri kita bosan? Apakah rasa bosan tersebut bila kita biarkan mampu menumbuhkan kebahagiaan? Tentu tidak, bukan? Nah, penjelasan sederhananya bagi saya seperti itu.
Ketika kita hidup tanpa impian ataupun tujuan, kita akan cenderung menjalani hidup sekadarnya saja sehingga terkesan monoton yang efeknya akan menimbulkan rasa bosan, hidup datar dan perasaan kurang bahagia. Sebaliknya, mereka yang memiliki impian cenderung memiliki kehidupan yang menantang karena mereka akan terus terpacu untuk mengeluarkan usaha dalam upaya menggapai impiannya. Inilah yang membuat hidup mereka jadi menarik dan berwarna yang akhirnya akan meningkatkan potensi kebahagiaan didalam hidup mereka.
Jadi, yuk kita bermimpi sembari terus berupaya meraihnya agar kita mendapatkan kebahagiaan kita.
Beberapa kali, di tengah sesi training yang saya jalankan, saya bertanya kepada peserta tentang apa impian mereka. Rata-rata peserta training yang saya tanya terkesan agak sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal berbeda ketika saya mencoba bertanya kepada anak-anak usia TK atau SD. Anak-anak tersebut seakan memiliki semangat dan antusiasme untuk menjawabnya. Kondisi ini tentunya sangat disayangkan, karena bagi saya pribadi dengan memiliki impian sebenarnya kita memiliki modal awal untuk mencapai apa yang jadi tujuan kita dan selangkah lebih dekat untuk mendapatkan kesuksesan yang kita impikan
Saya pernah membaca suatu kutipan yang mengatakan bahwa “impian adalah nyawa sebuah kesuksesan”. Bagi saya, dengan memiliki impian, hidup kita akan jadi lebih terarah dan kita memiliki tujuan didalam kehidupan. Namun pengalaman saya beberapa waktu lalu ketika membaca salah satu hasil survey tentang impian ternyata membuka pandangan saya lebih luas, yaitu impian tidak hanya merupakan nyawa dari kesuksesan, melainkan juga merupakan salah satu faktor pemicu lahirnya kebahagiaan.
Survei dari Global Dreams Index Survey tahun 2016 mengungkapkan bahwa separuh populasi perempuan di dunia menyerah akan mimpi-mimpi mereka dan tidak puas atas kehidupan yang mereka jalani saat ini. Dari hasil survei terhadap 5.400 perempuan di 14 negara, 3 dari 5 perempuan tidak mengejar mimpi atau pun tidak puas dengan kehidupan mereka. Bahkan di Asia, banyak perempuan yang kurang puas dengan kehidupan saat mereka tumbuh dewasa.
Ada beberapa kendala utama dalam mewujudkan mimpi masa kecil para perempuan Indonesia, yaitu terbatasnya dukungan finansial, rasa takut untuk keluar dari zona nyaman, dan takut untuk tidak mencapai definisi sukses pada umumnya. Namun, uniknya sebanyak 82 persen perempuan di seluruh dunia yang mengejar mimpinya merasa telah puas dengan hidupnya dan mereka sangat yakin dengan definisi sukses secara personal, yaitu melakukan sesuatu yang dicintai.
Artinya seseorang yang memiliki impian yang sedang maupun telah selesai diperjuangkan memiliki kemungkinan lebih besar untuk hidup lebih bahagia ketimbang orang-orang yang tidak pernah membuat impian semasa hidupnya. Mengapa bisa demikian? pernahkah rekan-rekan merasa menjalani rutinitas yang hanya itu-itu saja cenderung membuat diri kita bosan? Apakah rasa bosan tersebut bila kita biarkan mampu menumbuhkan kebahagiaan? Tentu tidak, bukan? Nah, penjelasan sederhananya bagi saya seperti itu.
Ketika kita hidup tanpa impian ataupun tujuan, kita akan cenderung menjalani hidup sekadarnya saja sehingga terkesan monoton yang efeknya akan menimbulkan rasa bosan, hidup datar dan perasaan kurang bahagia. Sebaliknya, mereka yang memiliki impian cenderung memiliki kehidupan yang menantang karena mereka akan terus terpacu untuk mengeluarkan usaha dalam upaya menggapai impiannya. Inilah yang membuat hidup mereka jadi menarik dan berwarna yang akhirnya akan meningkatkan potensi kebahagiaan didalam hidup mereka.
Jadi, yuk kita bermimpi sembari terus berupaya meraihnya agar kita mendapatkan kebahagiaan kita.
ingin ngobrol langsung dengan saya? silahkan follow twitter/ Instagram/path : @ivandhana dan facebook : @ivandhana
Semua orang pasti ingin hidup dengan bahagia. sebuah kebahagiaan yang banyak orang berupaya mendapatkannya dengan mengejar apa yang jadi keinginannya. sebagian diantara kita merasa bahwa dengan mendapatkan apa yang kita inginkan, maka kita akan jadi merasa bahagia. pemikiran tersebut tidaklah salah karena saya pribadi, jika mampu mendapatkan apa yang memang saya inginkan pasti juga jadi merasa bahagia.
Namun bagaimana ceritanya bila kita tidak mampu mendapatkan apa yang kita inginkan? apakah lantas kita tidak berhak bahagia? bukankah tidak semua yang kita inginkan itu akan jadi kenyataan dan tidak semua yang kita inginkan itu mampu kita dapatkan?
Cara termudah untuk bisa tetap bahagia walau di tengah kondisi yang tidak sesuai harapan adalah dengan MENERIMA keterbatasan dan kekurangan didalam kehidupan kita sembari tetap berupaya MENSYUKURI apa yang sudah kita miliki saat ini. dengan begitu kita tetap mampu berbahagia walau di tengah keadaan yang tak sesuai harapan kita.
Semoga tulisan singkat saya kali ini bermanfaat.
ingin sharing dan diskusi langsung dengan saya? bisa melalui twitter, path, Fb, instagram : @ivandhana
Selalu tersenyum memang bukan berarti kita senantiasa berbahagia, namun sebuah senyuman, terkadang adalah awalan terbaik untuk menciptakan kehidupan yang jauh lebih berbahagia
Writer : Helen Sicilia
Co Writer : Ivandhana
Ada beberapa teman saya yang berkomentar seperti ini : “kalo saya perhatikan, kamu sepertinya tidak pernah punya masalah ya? Karena kelihatannya selalu bersemangat dan happy terus setiap harinya.. enak yaa jadi kamu..” hmmm.. saya hanya bisa tersenyum dan tertawa namun terkadang menarik nafas panjang mendengar tanggapan dari teman saya kala itu. Sejujurnya, saya tidak pernah menyangka bahwa ada beberapa orang di sekitar saya yang menilai saya sebagai “orang yang tidak punya masalah”. Walaupun sempat heran mendengar tanggapan teman saya itu, namun di sisi lain saya juga merasa senang karena itu artinya walaupun di suatu waktu mungkin saya sedang ada masalah yang dihadapi, namun itu tidak mempengaruhi wajah dan tingkah laku saya untuk ikut bermasalah, sehingga setiap orang yang melihat saya akan merasa bahwa saya selalu dalam keadaan baik.
Sebagai seorang manusia biasa yang seringkali menghadapi berbagai permasalahan didalam keseharian, terkadang saya juga bisa mengeluh bahkan sampai menangis.. tetapi bukan di depan orang-orang lain disekitar saya. Saya lebih suka mengungkapkan kesedihan, ketakutan, kegelisahan, kekecewaan dan perasan lainnya pada saat saya berkomunikasi dengan Sang Pencipta melalui doa, karena saya merasa ada satu ketenangan batin yang selalu saya temukan dan rasakan setelah berdoa di tengah kondisi yang tidak ideal bagi diri saya. Dengan berdoa di tengah kendala yang saya hadapi pun akhirnya akan jadi lebih mudah untuk bersyukur dan menerima kondisi yang ada sehingga saya bisa memulai untuk berbahagia di tengah permasalahan yang ada.
Dalam hidup ini, kita memang tidak akan pernah bisa mengontrol keadaan yang terjadi disekitar kita, namun kita bisa mengontrol respon yang akan kita keluarkan dari dalam hati kita ketika menghadapi keadaan tersebut. Dan bagi saya, sebuah senyuman dan rasa syukur adalah respon awal yang paling baik untuk mengubah sebuah kendala menjadi bahagia
“Semalem kamu nonton sendiri lagi?” Pertanyaan dari seorang sahabat membuyarkan fokus saya yang saat itu sedang mengetik beberapa kata di komputer
“Iya” jawab saya singkat dengan sebuah senyuman kecil wajah saya.
“kok km nonton sendiri sih?” tanya teman saya kembali saat itu dengan raut wajah penuh keheranan
“Memang kalo nonton sendiri kenapa?” jawab saya
“ya gak papa sih, Cuma merasa aneh aja kok kamu bisa nyaman nonton sendiri gitu?” teman saya ini kembali bertanya
“Memangnya ketika kamu nonton itu, niatnya mau menikmati filmnya atau menikmati kebersamaan dengan seseorang sih” kali ini saya yang balik bertanya pada teman saya.
Potongan percakapan diatas sejujurnya adalah percakapan yang sering saya ulang-ulang sejak saya di masa kuliah sekitar 5 tahun yang lalu hingga saat ini dimana saya sudah bekerja. banyak diantara teman-teman saya yang selalu heran ketika mereka mengetahui bahwa saya baru saja menonton sebuah film di bioskop sendirian alias tidak bersama dengan siapapun.
Saya memang sudah sejak kuliah gemar menonton film. bahkan, koleksi film saya di notebook saya ketika itu senantiasa update sebagai bahan koleksi. Sedangkan ketika ada film baru yang menurut saya cukup berkualitas yang tayang di bioskop, saya akan selalu mengusahakan untuk menontonnya di bioskop. Bagi saya, dengan menonton film di bioskop, maka itu adalah sebagai bentuk penghargaan saya pada pihak-pihak yang telah berperan dan bekerja keras dalam membuat film tersebut.
Dengan intensitas menonton film di bioskop yang cukup tinggi itu, pasti ada pembaca yang penasaran dengan siapa saya menonton? Jwabannya seperti yang pembaca sekalian sudah tebak dan juga sudah saya ceritakan sedikit di awal tulisan saya ini, yaitu saya cenderung menontonnya sendirian. Klo dijadikan presentase, mungkin presentase saya menonton film sendirian di bioskop dari jaman kuliah hingga saat ini adalah sekitar 85%. Sedangkan 15 % nya adalah saya menonton dengan teman-teman saya atau tidak sendirian.
Jadi, jika kemudian ada teman-teman yang bertanya, kira-kira boring nggak sih menonton film sendirian? Jawaban saya adalah tidak sama sekali. Bukankah kita nonton film itu untuk menikmati sebuah film? Lantas kenapa setiap kali kita menonton film di bioskop harus diidentikkan dengan nonton bersama seseorang? Bagi saya, ini hanyalah masalah persepsi yang berlaku umum di masyarakat dimana biasanya momen nonton di bioskop dijadikan momen pas untuk menikmati kebersamaan dengan sahabat, kawan, saudara maupun pasangan.
Kali ini, saya tidak akan share banyak tentang hobi menonton yang saya miliki, namun saya akan mencoba berbagi sudut pandang yang saya dapatkan ketika banyak teman-teman saya yang mempertanyakan "kesendirian" yang saya alami dalam beberapa hal yang salah satunya dalam hal menonton film ini.
Ada orang yang menganggap kesendirian adalah hal yang menyakitkan. orang-orang seperti ini biasanya adalah mereka yang terbiasa berkumpul dan nongkrong bersama kawan-kawannya. tapi menurut saya, kesendirian itu tetaplah sesuatu yang dibutuhkan. kalo saya membahasakannya manusia itu selalu butuh quality time for self. artinya, kita memang harus memiliki porsi waktu yang cukup untuk bersosialisasi, namun ada kalanya kita juga memiliki porsi waktu sendiri.
Ada orang yang menganggap kesendirian adalah hal yang menyakitkan. orang-orang seperti ini biasanya adalah mereka yang terbiasa berkumpul dan nongkrong bersama kawan-kawannya. tapi menurut saya, kesendirian itu tetaplah sesuatu yang dibutuhkan. kalo saya membahasakannya manusia itu selalu butuh quality time for self. artinya, kita memang harus memiliki porsi waktu yang cukup untuk bersosialisasi, namun ada kalanya kita juga memiliki porsi waktu sendiri.
Kira-kira apa fungsinya porsi waktu untuk sendiri? memangnya kenapa kalau kita tidak punya porsi waktu untuk sendiri?
Bagi saya, ada beberapa hal yang saya dapatkan ketika saya sedang dalam fase "quality time for myself" yaitu :
1. kita memiliki waktu untuk melakukan evaluasi dan koreksi diri
Dengan menikmati waktu untuk sendiri, kita jadi punya waktu lebih untuk melakukan evaluasi dan perbaikan atas diri ini. hal ini penting karena kadang tanpa kita sadari, padatnya aktivitas kita sehari-hari membuat kita lupa untuk melakukan evaluasi atas apa yang kita lakukan yang dampaknya adalah kita jarang melakukan evaluasi atas apa yang sudah kita lakukan. saya sering sekali menggunakan waktu ini untuk merenung sejenak tentang apa saja hal-hal yang sudah saya alami bersama orang-orang disekitar saya. sudahkah kehadiran saya bermanfaat bagi mereka dan apakah tindakan yang saya lakukan sudah berkenan di hati mereka. karena siapa tau mungkin hari ini ada satu tindakan kita yang kurang berkenan di hati orang-orang disekitar kita. jika memang ada tindakan yang menurut saya bisa saja kurang berkenan di hati mereka, maka saya akan berupaya memperbaiki tindakan saya di hari esok.
2. Kita memiliki waktu untuk mensyukuri kebersamaan dengan lebih dalam
Segala sesuatu yang berlebihan itu kurang baik. begitu pula dengan kebersamaan. pernahkah teman-teman merasakan pertemuan yang monoton dengan orang-orang sekitar karena seringnya intensitas bertemu yang ditambah dengan minimnya kreatifitas dan variasi dalam hubungan? bagi yang pernah merasakan hal itu, maka "quality time with yourself" mungkin bisa jadi salah satu solusi. bukankah kadang yang membuat kebersamaan terasa lebih berharga adalah karena minimnya kesempatan untuk berjumpa? jadi, kesendirian itu sebenarnya juga merupakan sesuatu yang kita butuhkan, agar kita lebih menghargai dan mensyukuri sebuah kebersamaan itu dengan lebih baik
Sama seperti teman-teman yang mungkin saat ini masih berstatus jomblo atau single. tidak perlu risau, karena kadang itu hanyalah cara Tuhan untuk membuat dirimu lebih menghargai kebersamaan dengan pasanganmu di masa depan
Mungkin itu beberapa hal yang dapat saya share pada kesempatan kali ini. semoga bermanfaat, dan nantikan tulisan saya minggu depan. untuk update terbaru dari saya bisa follow instagram/twitter/facebook/path : @Ivandhana
Terimakasih :)
"Kesendirian pada dasarnya bukanlah sesuatu yang menyakitkan karena dari situlah kita akan belajar tentang kesepian yang akan membuat kita mensyukuri indahnya sebuah kebersamaan yang akan kita rasakan di masa depan"
Ada seorang rekan yang pernah mengatakan
pada diri saya bahwa kebahagiaan itu ketika kita mampu mendapatkan sesuatu yang
kita sukai dan harapkan. Dalam hidup, ketika kita mampu mencapai sesuatu yang
kita harapkan atau mampu mendapatkan sesuatu yang kita inginkan baik dari segi
materi maupun yang lainnya, pasti kita merasakan perasaan lega puas dan penuh
dengan kebahagiaan. Sehingga setiap harinya, manusia cenderung berlomba-lomba
untuk mengejar kebahagiaan yang dia harapkan, ada yang dengan bekerja keras
untuk jadi kaya, berupaya semaksimal mungkin untuk jadi orang yang sukses agar
mampu mendapatkan semua yang dia inginkan dan hingga menghalalkan segala cara
untuk memperoleh kemenangan yang dia impikan.
Pertanyaan selanjutnya dalam
benak saya adalah apakah ketika kita mendapatkan sesuatu yang kita sukai itu
kita pasti mendapatkan kebahagiaan? Apakah kebahagiaan itu hanya tentang
mendapatkan apa yang kita sukai dan inginkan? Bukankah dalam hidup itu ada
banyak hal yang tidak mampu kita raih dan capai? Apakah itu artinya kita harus
siap hidup tidak bahagia?
Pemahaman mengenai kebahagiaan
adalah mendapatkan apa yang kita inginkan, menurut saya adalah cara pandang
tentang sebuah kebahagiaan yang tidak utuh yang bisa membuat diri kita
memandang sebuah kebahagiaan dari satu sisi saja. saya merasa untuk memperoleh kebahagiaan
yang sebenarnya, kita perlu untuk belajar tentang memaknai kebahagiaan dengan
utuh itu seperti apa terlebih dahulu sehingga kita mampu menyikapi keinginan
kita untuk bahagia itu dengan positif dan kita bisa mendapatkan kebahagiaan
yang benar-benar bahagia.
Lantas, bagaimana cara kita mendapatkan
dan belajar memaknai kebahagiaan dengan utuh?
Yang pertama, kita harus
menyadari bahwa pada dasarnya Kebahagiaan itu bukan Cuma menegai memperoleh apa
yang menjadi harapan, melainkan juga mengenai bagaimana mengelola sebuah
harapan. Manusia boleh saja memiliki harapan, namun yang harus disadari adalah
tidak semua harapan dalam hati manusia itu mampu tercapai dan didapatkan. Ada harapan-harapan
yang tidak mampu kita dapatkan walaupun kita sudah mengeluarkan usaha yang
maksimal. Apakah lantas ketika harapan tentang sesuatu yang kita inginkan itu
tidak tercapai kemudian kita harus merasa tidak bahagia? disitulah sebenarnya
kita harus mulai belajar untuk mengelola harapan. Bagaimana agar harapan kita
itu tidak berujung pada ketidakbahagiaan ketika kita tidak mampu mencapainya. Kita
boleh memiliki harapan dan mengeluarkan usaha untuk mendapatkannya, namun
ketika kita belum mampu mencapainya kita harus percaya bahwa mungkin kita belum
mengeluarkan usaha yang tepat dan kita diminta untuk lebih keras lagi untuk
mensinkronkan antara harapan kita dengan usaha yang kita keluarkan, jadi kita
tidak perlu langsung pesimis dan berpikiran negatif ataupun langsung merasa
tidak bahagia ketika harapan kita belum mampu terwujudkan. Karena mengelola
harapan juga mengenai bagaimana kita mengarahkan harapan agar tetap sesuai, sejalan
dan seimbang dengan usaha yang kita keluarkan. Kalaupun ketika kita merasa dua
hal tadi sudah sejalan namun hasil yang kita harapkan belum mampu kita dapatkan,
maka itu artinya kita kemudian harus menginstrospeksi diri kembali tentang
apakah harapan kita tadi sudah relevan dengan apa yang kita impikan dalam
kehidupan dan tidak perlu terburu-buru berpikir tentang ketidakbahagiaan.
Dan selanjutnya, kita harus mau
mengakui bahwa Kebahagiaan itu bukan Cuma tentang mendapatkan apa yang kita
inginkan, melainkan juga tentang sebuah keikhlasan. Kebahagiaan kita pada
dasarnya dipengaruhi oleh cara pandang yang kita ambil dalam menyikapi sebuah
kondisi. Ketika kita menganggap bahwa ketika kita tidak mampu mendapatkan
sesuatu yang kita inginkan maka kita akan tidak bahagia, ya ketidakbahagiaan
itulah yang akan terjadi. Namun, ketika kita tidak mampu mendapatkan apa yang
kita inginkan saat ini dan kita merasa kecewa, namun kita menganggap bahwa itu
adalah pembelajaran penting untuk mendapatkan apa yang benar-benar kita
inginkan di masa depan nanti, maka kita akan jauh lebih merasa bahagia di
tengah kekecewaan tersebut. Dengan kata
lain, kerelaan dalam melepaskan sesuatu yang kita inginkan saat ini itupun bisa
berujung pada sebuah kebahagiaan walaupun melepaskan sesuatu yang kita inginkan
saat ini itu tergolong tidak mudah.
Kenapa orang yang kaya secara
materi, kadangkala juga bisa merasa tidak bahagia walaupun mereka bisa
mendapatkan dan membeli apapun yang mereka sukai? Dan kenapa orang yang
biasa-biasa itu bisa hidup bahagia walaupun sehari-hari mereka masih harus
melewati kesulitan hidup yang seakan tanpa henti? Jawabannya adalah karena
mereka sadar bahwa kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan hanya dengan
mencapai apa yang kita harapkan atau inginkan, melainkan kebahagiaan adalah
tentang memahami sebuah kebahagiaan itu dengan utuh melalui kerelaan serta
keikhlasan dan tidak dari satu sisi pemenuhan keinginan manusia saja.













