Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Seorang pria menemukan sebuah kepompong kupu-kupu di sebuah tanaman yang ada di halaman rumahnya. Penasaran dengan kepompong ini, maka sang pria lalu mengamati perkembangannya dengan seksama. Suatu hari lubang kecil muncul, pria itu duduk dan mengamati kupu-kupu kecil yang muncul dari kepompong ini selama beberapa jam. Kupu-kupu kecil ini terlihat sedang berjuang untuk memaksa tubuhnya keluar melalui lubang kecil. Kemudian tampak kupu-kupu kecil ini berhenti bergerak dan tidak membuat kemajuan. Binatang itu tampaknya terjebak.
Sang pria memutuskan untuk membantu kupu-kupu ini. Dengan sepasang gunting pria itu memotong kepompong hingga salah satu ujungnya terbuka lebar. kupu-kupu kecil kemudian muncul dengan mudah. Tetapi ada sesuatu yang aneh. Kupu-kupu ini memiliki tubuh bengkak dan sayapnya mengkerut. Pria itu berharap kupu-kupu ini memiliki proporsi ukuran sayap yang benar. Tapi tidak ada yang berubah. Sayap kupu-kupu ini tetap sama seperti sebelumnya. Kupu-kupu ini akhirnya tidak pernah bisa terbang.
Sang pria tidak menyadari bahwa perjuangan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil dari kepompong adalah cara alami untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu ke sayapnya sehingga kupu-kupu tersebut nantinya benar-benar siap untuk terbang. Artinya dari kesulitan yang dialami itulah sebenarnya kupu-kupu tersebut sedang mengalami proses pembelajaran untuk terus berkembang. Walau terkesan menyulitkan, namun proses inilah yang akan membuat kupu-kupu tersebut akhirnya dapat terbang.
Sama seperti yang sering kita alami dalam kehidupan kita. dalam beberapa kesempatan, kita akan melihat ada banyak kesulitan yang kita rasakan sehingga kita mengharapkan bantuan dari orang lain disekitar kita. namun yang harus kita sadari adalah ada kalanya kita harus memperjuangkan dan menghadapi kesulitan tersebut sendiri sehingga diri kita akan mampu mendapatkan perkembangan yang memang kita harapkan di masa depan.
Bukankah kesulitan dan permasalahan adalah syarat untuk sebuah perkembangan??
“Dasar bodoh, udah diingatkan berkali-kali tapi masih saja melakukan kesalahan.” Umpat seorang lelaki pada rekannya. Tampaknya lelaki ini sedang menumpahkan kekesalannya pada sang rekan akibat kesalahan rekannya dalam sebuah pertandingan sepakbola yang baru saja berakhir dengan kekalahan tim mereka.
Pernahkah kita memberikan cap negatif kepada seseorang dengan ungkapan “bodoh” seperti dalam kisah diatas? Mungkin kisah hidup Adam Khoo ini dapat menjadi inspirasi tentang bagaimana seharusnya kita berhati-hati terhadap sebuah label atau cap.
Ketika umur 12 tahun Adam dicap sebagai orang yang malas, bodoh, serta agak terbelakang. Akibatnya, ketika masuk SD, dia sangat membenci pelajaran dan hanya mau main game computer serta nonton TV. Karena tidak belajar, Adam banyak mendapatkan nilai F yang membuat dia semakin benci kepada gurunya, benci terhadap pelajaran, serta sangat membenci sekolahnya.
Saat duduk di kelas 3 dia dikeluarkan dari sekolah dan dipindahkan ke sekolah yang lain. Ketika akan masuk SMP, dia ditolak 6 sekolah dan akhirnya masuk sekolah yang paling jelek di daerahnya. Di sekolah ini, Adam Khoo termasuk yang paling bodoh. Di antara 160 murid seangkatan, Adam Khoo menduduki peringkat 10 terbawah.
Pada umur 13 tahun, Adam Khoo dikirim ke Super-Teen Program yang diajari oleh Ernest Wong, yang menggunakan teknologi Accelerated Learning, Neuro Linguistic Programming (NLP) dan Whole Brain Learning. Sejak saat itu keyakinan Adam Khoo berubah. Ia yakin bahwa dia bisa. Ernest Wong berkata bahwa, “Satu-satunya hal yang bisa menghalangi kita adalah keyakinan yang salah serta sikap yang negatif.” Kata-kata inilah yang akhirnya mempengaruhi Adam Khoo.
Dalam waktu 3 bulan rata-rata nilainya naik menjadi 70. Dalam satu tahun, dari ranking terbawah dia menduduki ranking 18. Ketika lulus SMP, dia menduduki ranking 1 dengan Nilai Ebtanas Murni A semua untuk 6 mata pelajaran yang diuji. Dia kemudian diterima di Victoria Junior College dan mendapatkan nilai A untuk tiga mata pelajaran favoritnya. Akhirnya dia diterima di National University of Singapore (NUS) dan karena di universitas itu setiap tahun dirinya menjadi juara, akhirnya Adam Khoo dimasukkan ke NUS Talent Development Program. Program ini diberikan khusus kepada 10 mahasiswa yang dianggap jenius.
Bagaimana seorang yang tadinya dianggap bodoh, agak terbelakang, dan tidak punya harapan, serta menduduki ranking terendah di kelasnya bisa berubah, menjadi juara kelas dan dianggap genius? Seperti yang sudah dijelaskan oleh Ernest Wong bahwa yang akan menghambat diri kita adalah keyakinan yang salah dan sikap yang negatif dari diri kita sendiri.
Kesuksesan Adam Khoo datang dari perubahan keyakinan yang salah menjadi keyakinan yang tepat, yaitu dari keyakinannya tentang, “Saya bodoh dan lulus saja sulit” menjadi “Kalau orang lain bisa, maka saya juga bisa.”
Dio tak pernah melupakan kalimat pertama yang keluar dari orang yang ingin merekrutnya di salah satu sesi wawancara dengan perusahaan ini yaitu, “Saya tidak hanya cari orang pintar, tapi orang yang bisa dipercaya dan diandalkan.” Kala itu Dio masih sebagai berstatus mahasiswa tingkat akhir yang akan menyelesaikan studi. Sembari menanti pengumuman kelulusan studi, Dio mulai mencari-cari pekerjaan yang cocok bagi dirinya.
Dari beberapa perusahaan melakukan interview terhadap Dio, baru kali ini dia merasakan suasana yang berbeda. Dio merasa seperti ada harapan lebih dari orang yang mewawancarainya tersebut terhadap dirinya. Itulah yang membuat akhirnya Dio tertarik untuk mencoba peruntungannya di perusahaan ini. Singkat cerita, setelah melalui beberapa tahapan yang dibutuhkan akhirnya Dio pun diterima.
Tanpa terasa, hari ini sudah 10 tahun Dio berada di perusahaan ini. di tempat ini jugalah Dio mengembangkan dirinya sejalan dengan perkembangan perusahaan. banyak rekan-rekannya yang bertanya bagaimana Dio akhirnya bisa memutuskan untuk bertahan di perusahaan yang sama selama sepuluh tahun di kala banyak orang lainnya yang begitu mudahnya berganti pekerjaan dengan iming-iming benefit lebih yang mampu didapatkan.
Dio bukanlah orang yang pintar. Tapi Dio senantiasa berusaha untuk selalu dapat dipercaya dan diandalkan. Mungkin hal inilah yang akhirnya membuat Dio memutuskan untuk bertahan. Karena Dio merasa masih ada tantangan dan kepercayaan yang diberikan oleh perusahaan. Kepercayaan inilah yang akhirnya memotivasi dirinya untuk terus belajar, terus maju dan melanjutkan estafet kepemimpinan di perusahaan
Perusahaan ini pun bukanlah tempat yang sempurna. Selalu ada pro kontra dan perbedaan dalam perjalanan organisasi ini. Namun, Dio yakin bahwa di luar sana pun tidak ada perusahaan yang benar-benar sempurna. yang ada hanyalah perusahaan yang dengan segala ketidaksempurnaannya tetap mampu menjadikan karyawannya menjadi orang yang memiliki value dan bermakna bagi lingkungan sekitarnya. Dan Dio yakin bahwa di tempat inilah dirinya dapat senantiasa belajar dan berkembang kearah yang lebih baik.
Dari kisah Dio diatas, kita dapat belajar bahwa benefit bukanlah merupakan satu-satunya penentu engagement seseorang didalam sebuah perusahaan. Benefit atau materi memang penting, tapi bukan karena itulah seseorang memutuskan untuk akhirnya bertahan. Salah satu buktinya adalah, masih banyak orang yang memiliki gaji tinggi dan benefit yang baik akhirnya memutuskan untuk pergi karena dirinya tidak menemukan sesuatu yang membuat dirinya tertantang dan berkembang di sebuah perusahaan.
Karena pada dasarnya, setiap tantangan dan kepercayaan yang diberikan oleh sebuah perusahaan, itulah yang justru akan membuat setiap karyawannya tetap tergerak untuk melanjutkan perkembangan dirinya bersama perusahaan. Dan ketika seorang karyawan telah memutuskan untuk berkembang bersama sebuah perusahaan, disitulah tersimpan potensi perkembangan didalam perusahaan itu sendiri
“Aku suka sama kamu” seorang pria berkata pada wanita yang ada di dekatnya.
Wanita ini tampak kaget dan terlihat tidak siap mendengar kalimat yang diucapkan oleh teman lelakinya tadi sehingga membuat sang wanita terdiam beberapa saat. Dalam diamnya ini, terlihat jelas bahwa sang wanita memikirkan jawaban yang harus dia berikan pada sang lelaki.
Setelah terdiam selama 5 menit, wanita ini menjawab dengan kalimat, “Maaf, aku mau fokus dulu.”
Pernahkah kita menyatakan cinta kepada sang pujaan hati kemudian dia berkata, “Maaf, Aku mau fokus dulu” seperti kisah diatas? bagi sebagian diantara kita pasti berkata bahwa itu adalah alasan atau akal-akalan dari kaum wanita yang sebenarnya memang ingin menolak kaum pria. Tapi bagaimana kalau ternyata alasan itu adalah benar adanya?
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Henk van Steenbergen bersama beberapa orang dari Leiden University dan The University of Maryland menyatakan bahwa hubungan asmara sejatinya membuat produktivitas kita berkurang. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya manusia tidak akan mampu fokus pada banyak hal disaat yang sama. Ketika kita fokus pada sesuatu, maka kita akan mengeluarkan kemampuan yang kita miliki untuk menyelesaikan satu hal yang kita fokuskan tadi.
Dalam penelitiannya, Steenbergen melakukan analisa pada 43 peserta yang sudah berhubungan selama kurang dari 6 bulan. Para relawan diminta untuk melakukan beberapa tugas untuk mengetahui bagaimana tingkat produktivitas dan kemampuan otak untuk fokus pada suatu masalah. Hasilnya menunjukkan bahwa gairah cinta yang timbul pada diri relawan membuat pola pikir dan konsentrasi berkurang sehingga kemampuan untuk menyelesaikan tugas pun berkurang.
Lantas apa yang harus kita lakukan setelah melihat studi diatas? Apakah kita dilarang merasakan sebuah cinta? Bukankah perasaan cinta adalah sesuatu yang wajar dimiliki dalam diri manusia?
Yang harus kita sadari adalah studi diatas bukan bermaksud untuk menghindarkan diri kita dari perasaan yang mungkin dapat muncul dalam hati, melainkan agar kita lebih mawas diri dan belajar cara menyikapi setiap keadaan dengan lebih bijaksana. Ketika kita tahu bahwa perasaan tersebut dapat mengurangi fokus kita, maka kita harus lebih berhati-hati dan jangan sampai perasaan tersebut akhirnya mengganggu rutinitas atau aktifitas lain yang memang sudah menjadi tanggung jawab kita.
Bukankah dampak baik atau buruknya sesuatu itu ditentukan oleh cara kita sendiri dalam menyikapi setiap keadaannya?
Cinta itu bukanlah tentang bagaimana menafsirkan sebuah rasa. Melainkan cinta juga tentang kerelaan untuk menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan diri kita untuk kepentingan yang jauh lebih besar nantinya.
“Entah kenapa perasaanku ini sudah pas banget sama dirinya.”
“Aku nggak mau kalo nggak sama kamu pokoknya.”
“Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
Pernahkah kita mendengarkan beberapa kalimat diatas dalam aktifitas sehari-hari kita? Walau terdengar berlebihan, namun beberapa kalimat diatas sering kita dengar di beberapa sinetron televisi yang membahas tentang percintaan remaja. Topik tentang percintaan memang menjadi salah satu topik yang menarik untuk ditayangkan melalui televisi karena cukup banyak peminatnya, terutama dari generasi muda kita.
Sayangnya minat yang besar dari masyarakat tentang topik percintaan ini tidak disertai dengan tanggung jawab dalam hal penyediaan konten. Minat besar yang harusnya digunakan untuk konten-konten yang positif dan mendidik, justru akhirnya dimanfaatkan untuk dieksplor lebih dalam.
Akhirnya banyak remaja yang salah dalam menafsirkan sebuah rasa. Dampaknya, membuat para remaja ini terlalu fokus pada perasaan mereka masing-masing seperti yang digambarkan dalam kalimat-kalimat di awal tadi. Hal ini akhirnya menghilangkan kepekaaan mereka untuk memahami rasa cinta dalam kaitannya dengan kepentingan lain yang jauh lebih besar.
Lantas bagaimana seharusnya kita memaknai sebuah rasa? Mungkin kisah pejuang nasional Aceh dibawah ini dapat menjadi salah satu referensi tentang bagaimana kita menyikapi sebuah rasa
Tjoet Nyak Meutia atau sering disebut juga Cut Mutia adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Ia menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.
Awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya.
Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nagroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya dibawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan.
Tjoet Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukkannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Tjoet Meutia bersama pasukkannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu Tjoet Meutia gugur.
Kerelaan Cut Meutia mengikuti wasiat suaminya untuk menikah kembali dan meneruskan perjuangannya mengajarkan satu hal penting bagi diri kita. Bahwa ternyata rasa cinta tidak hanya tentang sebuah rasa antara dua orang saja, melainkan juga mengenai kerelaan untuk menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan demi masa depan.
Pernikahan yang dilakukan kembali oleh Cut Meutia sepeninggal suaminya bukan mengindikasikan bahwa Cut Meutia tidak mencintai suaminya tersebut. Namun justru sebagai simbol bahwa sebesar apapun cinta yang mereka berdua rasakan, tetaplah harus dibangun diatas kesadaran tentang kepentingan yang jauh lebih besar, yaitu perjuangan melawan penjajah yang masih harus mereka tuntaskan.
Maka, kita boleh saja mencintai dan meluapkan rasa yang kita punya, namun jangan sampai hal tersebut dilakukan berlebihan yang akhirnya membuat kita melupakan hal-hal yang lebih besar disekitar kita.
Tidak ada yang bisa kita lakukan di tengah dunia yang penuh perubahan selain terus berupaya mengembangkan kemampuan yang kita miliki untuk menghadapi masa depan. Ada yang ingat dengan sebuah produk bernama Kodak? Sekitar tahun 90-an adalah waktu dimana Kodak sangat berjaya dengan produk kamera manual dan film seluloidnya. Maka tak heran jika masa-masa ini disebut “Kodak Moment”.
Kodak yang didirikan oleh Goerge Eastman pada 1892 ini sejak awal memproduksi kamera Analog. Bahkan kamera buatan Kodak tercatat dalam sejarah sebagai kamera yang digunakan oleh astronot pertama yang mendaratkan kakinya di bulan yaitu Neil Amstrong untuk memotret objek-objek di permukaan bulan pada tahun 1969.
Enam tahun kemudian kodak mulai memproduksi kamera digital. Artinya Kodak sebenarnya adalah perusahaan yang pertama kali memproduksi kamera digital. Namun setelah teknologi kamera digital mulai berkembang, kodak bukannya mengembangkan kamera digitalnya tapi justru terpacu untuk memproduksi secara besar-besaran kamera analognya yang memang saat itu menjadi andalan perusahaan ini.
Perlahan namun pasti teknologi terus berkembang. Perusahaan-perusahaan di Asia seperti Casio dan Canon melihat bahwa peluang pasar kamera digital sedikit demi sedikit terus meningkat. Seakan memahami tren pasar di masa depan, Casio dan Canon pun akhirnya berusaha melakukan pengembangan kamera digital dengan sangat serius
Akhirnya ketika dunia benar-benar memasuki era kamera digital, Kodak kelabakan oleh persaingan dengan rivalnya dari Asia yaitu Casio dan Canon. Bisnis film kamera pun berakhir dan Kodak kesulitan menghasilkan keuntungan. Kamera digital generasi pertama dari Kodak juga kurang diminati karena miskin inovasi. Perkembangan media penyimpanan seperti SD Card tidak diikuti oleh Kodak yang masih berfokus pada kamera filmnya. Alhasil Kodak akhirnya harus menutup bisnisnya.
Apa yang bisa kita pelajari dari sejarah Kodak ini? sebagai sebuah organisasi, Kodak seharusnya terus melakukan pembelajaran dan meningkatkan kemampuannya untuk menciptakan inovasi. Hal ini penting agar Kodak dapat senantiasa merespon perubahan yang muncul sehingga mampu menghadapi pesaing-pesaingnya.
Sama seperti Kodak, sebagai manusia, kita juga senantiasa dituntut untuk terus melakukan pembelajaran dan meningkatkan kemampuan yang kita miliki. Hal ini dibutuhkan untuk menghadapi persaingan di masa depan yang berjalan makin keras dan serba cepat. Jika kita tidak berusaha membenahi diri secara terus menerus, maka besar kemungkinan diri kita akan segera tergantikan dengan orang lain yang lebih siap dengan perubahan itu sendiri
Sayangnya, masih sedikit orang yang menyadari pentingnya mengembangkan diri. Sebagian besar diantara kita masih banyak yang cenderung terjebak didalam zona nyaman kehidupannya saat ini sehingga akhirnya mereka lengah terhadap perubahan di masa depan.
Jadi, apakah kita masih termasuk ke dalam orang-orang yang terjebak dalam zona nyaman??
Untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam karir dan kehidupan itu pada dasarnya butuh kesabaran. Karena kesuksesan adalah ujung akhir dari proses yang kita lakukan. Artinya, jika suatu hari kita berhenti di tengah-tengah sebuah proses, itu sama saja diri kita sedang berhenti meraih kesuksesan yang kita harapkan.
Banyak orang yang mengagumi kesuksesan Soichiro Honda dalam mengembangkan bisnisnya. Namun, orang-orang tersebut tidak menyadari bahwa dibalik keberhasilan itu ada proses kegagalan panjang yang harus Honda lewati. Saat merintis bisnisnya, Soichiro Honda memang selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun tak pernah berhenti bersabar sembari terus berusaha menjalani prosesnya.
Soichiro Honda bukanlah siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru dan nilai sekolahnya pun selalu jelek. Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja di Hart Shokai Company. Bosnya, yaitu Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya.
Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan pada Honda untuk membuka kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya. Di Hamamatsu prestasi kerja Honda makin meningkat. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga normal kembali.
Pada zaman itu, velg mobil para pelanggannya masih terbuat dari kayu, hingga kurang baik dalam hal meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan velg kayu itu dengan logam. Hasilnya luar biasa karena velg logamnya laku keras dan diekspor ke seluruh dunia.
Setelah menciptakan velg, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang sebaiknya dia pilih? Pikirannya tertuju kepada pembuatan Ring Piston yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual.
Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh.
Berkat kerja kerasnya, desain Ring Piston Honda akhirnya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Namun niatnya kandas karena kala itu Jepang sedang membutuhkan dana untuk modal perang sehingga tidak bersedia memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Namun, lagi-lagi musibah datang, setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.
Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Para karyawannya ini diperintahkan untuk mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat untuk digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya.
Di tahun 1947 setelah perang, kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia mencoba memasang motor kecil pada sepeda dan ditunjukkan pada para tetangganya. Siapa sangka, akhirnya produk yang merupakan cikal bakal lahirnya kendaraan bermerk “Honda” itu sangat diminati. Mereka berbondong-bondong memesan sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda memutuskan mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya.
Coba bayangkan bila di tengah-tengah proses yang Soichiro Honda pernah jalani itu, dia memutuskan untuk berhenti berusaha? Kira-kira bisakah Honda menjadi sukses seperti sekarang ini?
Sama halnya dengan diri kita tatkala menjalani aktifitas kita. ketika kita menginginkan sesuatu untuk kita raih, pastikan kita mempersiapkan diri untuk menjalani prosesnya dengan konsisten dan sabar. Karena tanpa konsistensi dan kesabaran itu, kita bisa saja terlampau mudah berhenti menjalani prosesnya di tengah jalan. Hal ini membuat proses menuju kesuksesan yang mungkin sudah dekat saat itu jadi tak mampu kita lihat dan akhirnya kita pun tidak berhasil mendapatkan kesuksesan yang kita harapkan
Puluhan penumpang panik saat mengetahui speedboat yang ditumpanginya mati mesin di perairan Laut Muara. Speedboat yang berangkat dari Tanjung Selor pada Jumat (09/09/2016) sekitar pukul 15.30 WITA ini mati mesin akibat kehabisan bahan bakar.
Akibatnya, puluhan penumpang yang ada di dalam speedboat satu mesin ini terombang-ambing di lautan lebih dari satu jam. Apalagi saat kejadian cuaca dalam kondisi buruk dan hujan lebat.
Penumpang akhirnya bisa melanjutkan perjalanan ke Kota Tarakan setelah ada salah satu speedboat dari Pelabuhan Tarakan yang membawa bahan bakar. Speedboat dengan puluhan penumpang ini akhirnya bisa bersandar di pelabuhan Tengkayu Tarakan sekitar pukul 18.20 WITA dengan selamat (sumber : www.kaltarakita.com)
Pernahkah kita membayangkan sebuah kendaraan yang mampu berjalan tanpa bahan bakar atau energi untuk menggerakkannya? Pasti sulit dibayangkan bukan? Bahkan sebuah sepeda, membutuhkan energi yang berasal dari tenaga manusia untuk bisa bergerak. Pada dasarnya, setiap benda yang bergerak pasti membutuhkan energi untuk mensupport gerakannya tersebut. Energi tersebut bisa berasal dari banyak hal seperti dari bahan bakar minyak, listrik, angin dan yang lainnya.
Manusia pada dasarnya juga senantiasa membutuhkan energi dalam rangka menggerakkan dirinya untuk mencapai tujuannya. Tanpa energi ini, manusia akan sulit bergerak atau justru berhenti bergerak karena kehilangan energi yang menopang aktifitasnya
Apa saja kira-kira energi yang dibutuhkan manusia untuk menjalankan aktifitasnya? Salah satu energi tersebut adalah motivasi. Motivasi adalah energi tak terlihat yang mampu membuat manusia tetap bergerak walaupun di tengah kondisi sulit yang mengharuskannya untuk berhenti. Karena dari motivasi inilah akan timbul sebuah dorongan untuk melakukan sesuatu. Dorongan ini juga yang nantinya akan menggerakkan diri kita untuk mengeluarkan usaha lebih untuk mencapai apa yang jadi tujuan kita
Karena motivasi terbesar dalam diri kita itulah yang nantinya akan memunculkan pencapaian-pencapaian besar dalam kehidupan kita
Jadi apa motivasi terbesarmu?
Tahun-tahunku di perusahaan ini berjalan dengan penuh kejadian, tekanan dan tantangan. Yang pasti, selalu ada perubahan kearah yang lebih baik entah itu dari segi fisik, ruang kerja, maupun manusianya.
Tapi ada satu hal yang tetap ada sampai sekarang. Hal yang membuatku setiap hari melangkah masuk ke gedung kantor dengan hati yang ringan dan senang. Tak perduli seberapa malasnya bangun pagi, seberapa mengesalkannya perjalanan penuh macet ke kantor, semuanya menjadi hilang tak berbekas ketika sampai di kantor dan bertemu dengan bapak-bapak satpam dan rekan-rekan resepsionis.
Setiap hari, mereka selalu tersenyum hangat dan mengucapkan, “Selamat pagi!” Sapaan dan senyuman mereka menular dan membuatku ingin menyapa rekan-rekan yang lain ketika sampai di ruang kerja. Sungguh senang kalau bisa memulai hari dengan hati yang riang dan ceria
Kebahagiaan ternyata menyebar didalam lingkungan pekerjaan. Itulah yang terlihat jelas dari kisah salah satu karyawan perusahaan Nutrifood yang diceritakan dalam buku “Rumah Kedua.” Di awali oleh senyuman dan ucapan dari resepsionis dan satpam, ternyata membuat setiap karyawan merasakan aura kebahagiaan dan ingin membaginya pada lingkungan. Coba bayangkan bila setiap orang memiliki kesadaran yang sama tentang pentingnya membagi kebahagiaan yang sederhana seperti kisah diatas, maka pasti lingkungan pekerjaan kita akan menjadi tempat yang sangat nyaman
Hampir sepertiga kehidupan yang kita jalani sehari-hari dihabiskan didalam lingkungan pekerjaan. Sehingga sudah seharusnya kita menjadikan lingkungan pekerjaan kita menjadi lingkungan yang menyenangkan. Tak perlu berharap orang lain untuk memulai, karena dari kisah diatas, kebahagiaan dan senyuman yang diberikan oleh satpam dan resepsionis kantor ternyata menular pada semua orang didalam lingkungan pekerjaannya.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimanakah diri kita saat ini? Sudahkah kita menyebarkan antusiasme kita didalam lingkungan pekerjaan? Atau jangan-jangan, justru kita meluapkan kekesalan kita didalam pekerjaan hingga akhirnya lingkungan kita merasakan ketidaknyamanan??
Bukankah Sesuatu yang baik itu pada dasarnya harus dimulai dari diri kita sendiri? lantas kenapa kita harus menunggu orang lain yang menciptakan hal baik tersebut?
Beberapa saat lalu, saya menonton film Indonesia yang berjudul “Headshot.” Film ini memang baru saja ditayangkan serentak di beberapa bioskop Indonesia. Awalnya, saya hanya sekedar penasaran dengan jalan ceritanya ketika melihat trailer film ini di beberapa media. Selain menyuguhkan adegan laga yang seru, film ini juga didukung oleh aktor dan aktris yang terkemuka. Di Indonesia sendiri genre film laga yang dipadukan dengan kisah romantisme memang belumlah banyak. Sehingga akhirnya saya memang menantikan film ini sejak lama.
Setelah menonton, beberapa pendapat mengenai filmnya muncul dalam benak saya. Beberapa kawan saya yang sudah menonton juga memberikan komentar yang cukup beragam. Ada yang bilang cukup baik, sangat bagus, biasa saja, ada yang ganjil di filmnya dan berbagai pendapat lainnya. Bagi saya, beragam pendapat ini adalah sesuatu yang wajar karena setiap orang memiliki ekspektasi masing-masing terhadap sebuah film.
Namun, terlepas dari berbagai komentar dan pendapat yang ada, saya merasa bahwa keberadaan film ini harus tetap diapresiasi oleh banyak pihak. Karena film ini menggambarkan perkembangan dunia perfilman Indonesia yang semakin maju. Adegan laga yang seru, totalitas aktor dan aktrisnya dalam berakting, ditambah dengan alur cerita yang mulai terbentuk dengan rapi, memang membuat film ini terasa cukup lengkap. Walaupun masih ada beberapa alur cerita yang terasa ganjil, namun tidak mengurangi keseruan yang dihadirkan. Maka sebuah apresiasi tetaplah sangat perlu diberikan khususnya pada banyak pihak yang berkontribusi dalam terciptanya film ini
Apresiasi dari para penonton seringkali cukup ampuh untuk meningkatkan motivasi dari para pencipta film agar lebih kreatif dalam menciptakan sebuah karya. Coba bayangkan bila hanya sedikit orang yang mengapresiasi keberadaan sebuah film, ada kemungkinan para pencipta film akan jadi malas untuk membuat karya lebih baik dan lebih banyak bukan? Untuk apa kita membuat sebuah karya ketika kita tau bahwa tidak ada orang yang akan mengapresiasi apa yang kita buat.
Karena pada dasarnya sebuah karya itu dibuat agar orang lain disekitar kita merasakan manfaatnya. Itu sebabnya kita sering melihat ajang apresiasi terhadap bakat atau karya seseorang diadakan. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk membuat para pencipta karya makin bersemangat dan termotivasi untuk menciptakan karya yang makin baik dari waktu ke waktu sehingga makin banyak juga orang disekitarnya yang merasakan manfaat dari karya yang dibuatnya.
Begitu pula dengan didalam menjalani aktifitas sehari-hari. Penting bagi kita untuk memberikan apresiasi terhadap setiap hasil kerja yang dilakukan oleh orang-orang disekitar kita. Karena sekecil apapun bentuk apresiasi yang kita berikan, dapat memiliki dampak yang luar biasa terhadap peningkatan motivasi orang tersebut untuk melakukan hal yang lebih baik di masa depan.
Jadi tunggu apa lagi? Yuk sebarkan apresiasi positif pada hal-hal kecil disekitar kita agar di masa depan, hal kecil tadi mampu berubah menjadi hal baik yang jauh lebih besar.
Yang mampu mengubah kehidupan seorang manusia, bukanlah manusia lain disekitarnya, melainkan pribadi manusia itu sendiri. Pesan inilah yang saya tangkap dari film terbaru Sahrukh Khan yang berjudul Dear Zindegi yang baru saja saya tonton beberapa jam yang lalu. Dilihat dari tampilan poster filmnya, awalnya saya menebak bahwa film ini pastilah penuh dengan adegan percintaan. Namun ternyata setelah 140 Menit menonton filmnya secara langsung, saya kemudian menyimpulkan bahwa pendapat saya tidaklah sepenuhnya tepat karena ternyata film ini menyuguhkan sesuatu yang berbeda
Alur cerita film Dear Zindagi berkisah tentang kegalauan Kaira, seorang sinematografi muda, cantik, berdarah India. Kaira sudah empat kali pacaran dan menjalin hubungan dengan para kekasihnya, tetapi kaira merasa kesulitan menemukan kenyamanan.
Setiap hubungan yang dbangun bersama kekasihnya selalu berujung pada kegagalan. Hal ini membuat Kaira stress, frustasi dan merasa hidupnya tidak adil karena disisi lain, hubungannya dengan keluarganya pun memburuk. Di tengah kegalauannya itu, Kaira kemudian memutuskan berkonsultasi intensif dengan seorang dokter dan terapis bernama Jehangir Khan.
Alih-alih bersikap sebagai seorang terapis, Khan justru bersikap sebagai seorang sahabat yang dengan setia mendengarkan Kaira dalam setiap sesi konsultasinya. Seminggu sekali, Kaira bertemu dan berkonsultasi dengan Khan untuk menyembuhkan penyakitnya. Namun Khan memiliki cara yang unik dalam menangani orang-orang dalam sesi therapy nya, termasuk sesinya dengan Kaira.
Dalam setiap sesi, Khan sama sekali tidak menggurui Kaira ataupun bersikap layaknya seorang dokter pada umumnya. Khan hanya menjadi pendengar yang baik, memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengubah sudut pandang Kaira dalam menjalani kehidupannya dan sesekali Khan juga berbagi beberapa kisah dan cerita agar Kaira mengambil pelajaran dari kisah tersebut
Singkat cerita, akhirnya dari pertayaan-pertanyaan yang kerap diberikan oleh Khan ini, akhirnya sudut pandang Kaira terhadap kehidupannya berubah 180 derajat. Dari yang awalnya memandang kehidupannya dengan sinis dan penuh emosi akibat kisah pahit di masa lalunya, Kaira kemudian belajar bahwa untuk memulai sesuatu yang baru, dia harus berani memaafkan masa lalu dan memutuskan untuk menjalani hidup dengan bahagia di masa kini.
Untuk membantu mengubah kehidupan orang lain disekitar kita, terkadang kita merasa bahwa itu membutuhkan kata-kata bijak dan solusi yang benar-benar jitu yang bisa kita berikan. Namun hal ini tidaklah sepenuhnya tepat karena dalam kisah diatas, ternyata pertanyaan-pertanyaan yang menggugah pemikiran justru ampuh untuk mengubah orang tersebut. Inilah yang disebut dengan metode Coaching yang seringkali mampu mengubah kehidupan.
Maka, ketika dirimu menemukan orang lain disekitar yang membutuhkan pertolongan untuk menghadapi masalah dalam kehidupannya, tidak perlu bingung mencari solusi dan kalimat bijak yang tepat karena kadang hanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengubah sudut pandang ini, kita akan mampu mengubah kehidupannya.
Seorang atasan mendapatkan kabar bahwa karyawannya yang memiliki prestasi membanggakan akan ditarik untuk bekerja pada perusahaan kompetitor. Sebut saja atasan ini bernama Doni. Doni merasa tersinggung karena ada salah seorang karyawannya yang tidak pernah mengutarakan niatnya untuk berpindah tempat kerja.
Namun Doni justru mendapatkan informasi perihal kepindahan kerja karyawannya ini dari orang lain. Doni pun jengkel karena merasa dirinya tidak dianggap oleh karyawannya sendiri. Padahal Doni merasa dirinya memiliki andil untuk ikut mendidik karyawannya ini hingga memperoleh banyak prestasi. Perasaan jengkel ini tanpa disadari membuat Doni menunjukkan sikap sinis kepada karyawannya dalam menjalankan aktivitasnya sepanjang hari.
Perilaku sinis yang ditunjukkan oleh Doni akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan bagi sang karyawan yang akhirnya membuat karyawan tersebut memutuskan untuk berpindah perusahaan. Belakangan diketahui bahwa ternyata sejak awal, karyawan tersebut tidak pernah berniat berpindah ke perusahaan kompetitor. Tapi sang pemimpin sudah terlanjur bersikap sinis.
Persepsi diri pada dasarnya mempengaruhi tingkat emosi kita yang akhirnya juga akan mempengaruhi perilaku kita. Maka, berhati-hatilah dalam mempersepsikan lingkungan kita agar perilaku yang kita tunjukkan benar-benar sesuai. Sama seperti dalam kisah diatas. Walaupun baru sekilas mendengar sebuah kabar, Doni langsung mempersepsikan apa yang didengarnya sebagai sebuah kebenaran. Padahal kebenaran menurut Doni ini masih sangat perlu untuk dibuktikan kembali
Sayangnya, Doni tidak berupaya untuk mencari kebenarannya di tempat lain yang membuatnya merasakan emosi terhadap kondisi tersebut. Emosi ini akhirnya mendorong Doni untuk mengeluarkan perilaku yang sesungguhnya tidak tepat. Alhasil dampak dari perilaku tersebut justru merugikan dirinya sendiri.
Maka, sebagai manusia yang baik, berhati-hatilah dalam mempersepsikan apa yang ada di lingkungan sekitar kita, karena apa yang kita persepsikan sesungguhnya akan menentukan emosi diri dan perilaku yang kita keluarkan
Pria kelahiran Makassar, 5 Maret 1956 ini sejak kecil terkenal cerdas. Sempat bersekolah di New Trier West High (Sekolah Setingkat SMA) Amerika di jurusan Arsitektur pada tahun 1975. Lulus dari sana, ia kemudian kembali ke Indonesia dan melanjutkan kuliahnya di IKIP di jurusan Linguistik dan Pendidikan Bahasa Inggris. Dari Indonesia, ia kemudian memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Jepang, hingga kemudian pindah ke Amerika dan kuliah di Indiana University, di jurusan Operations Systems hingga tamat pada tahun 1983 dengan gelar MBA di usianya yang ke 27 tahun.
Segala macam jabatan prestisius di berbagai Bank pernah disandangnya yang salah satunya pernah bekerja sebagai sebagai Head of Manager, BIMC. Kemudian ke Indonesia dan ditarik bekerja sebagai Head Of Sales di Citibank Indonesia dari tahun 1983 hingga tahun 1986.
Pengalamannya yang banyak dalam bidang bisnis menjadikannya menjadi pembicara di program Business Art di O'Channel di tahun 2007, Karena kepiawaiannya dalam berbicara menyusun kalimat-kalimat yang bagus serta karakternya yang kalem, sopan serta menyenangkan membuatnya ditawari sebagai motivator di acara Metro TV yang berjudul 'Mario Teguh Golden Ways'. Dari program acara itulah nama Mario Teguh kemudian dikenal luas oleh masyarakat. Hingga ia kemudian dinobatkan sebagai motivator dengan bayaran termahal di Indonesia.
Program acaranya sendiri memiliki rating yang sangat baik dan banyak ditonton oleh berbagai lapisan masyarakat. Tidak hanya orang tua, namun anak muda juga turut menggemari acaranya karena banyak memiliki pesan-pesan yang positif dalam kehidupan.
Namun, beberapa waktu lalu publik dikejutkan dengan ramainya pemberitaan negatif mengenai sosok motivator indonesia yang cukup fenomenal ini. Ya, sang Mario Teguh akhirnya tumbang diterjang pemberitaan isu negatif yang beredar di masyarakat hingga akhirnya kini Mario Teguh pun perlahan kehilangan para penggemarnya. Setiap kalimat motivasi yang dibagikannya, kini tidak lagi memiliki nilai inspirasi bagi para pendukungnya yang terlanjur kecewa.
Apa sebenarnya yang terjadi? Bagaimana bisa sosok yang dulunya sangat dikagumi dalam hal memberikan motivasi, mendadak kehilangan kemampuannya dalam memberikan motivasi? Dari kejadian ini kita dapat belajar bahwa ternyata motivasi yang kita berikan, sebenarnya juga membutuhkan sebuah keteladanan.
Sehebat apapun orang tersebut berbicara, jika tidak dibarengi dengan penerapan yang baik didalam aktifitasnya sehari-hari, maka pada akhirnya setiap kalimatnya tidak akan memotivasi orang lain. karena motivasi itu bukan sekedar melalui sebuah ucapan, melainkan melalui tindakan yang kita tunjukkan. Itu juga yang menjelaskan bagaimana Gerakan Indonesia Mengajar mampu memotivasi orang lain untuk mengajar jauh di pedalaman, karena mereka terinspirasi dan termotivasi oleh keteladanan dan tindakan yang gerakan tersebut ciptakan.
Maka, jika kita ingin memberikan motivasi kepada orang lain, tidak harus dengan cara mengeluarkan kalimat indah didalam hari-hari kita, karena sebenarnya dapat kita lakukan dengan memberikan contoh pada lingkungan sekitar kita tentang bagaimana menciptakan kebermanfaatan dan kebaikan yang seluas-luasnya pada sesama.
Perkembangan itu bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak buku yang kita baca, melainkan juga ditentukan oleh seberapa besar kita bersedia mengakui kekurangan yang kita punya. Pernahkah kita bertemu seseorang yang dengan mudahnya menyalahkan orang lain atas sebuah kondisi? Sebut saja namanya Adi.
Di lingkungannya, dia sering dijuluki sebagai Mr Right. Julukan ini muncul karena kebiasaan buruknya yang suka menyalahkan orang lain ketika dirinya melakukan kesalahan. ketika ada masalah yang dihadapi dan ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan yang telah diperkirakan oleh dirinya, Adi ini lebih suka melihat kesalahan orang lain di sekitarnya ketimbang melakukan introspeksi untuk dirinya sendiri.
Beberapa kali, teman-temannya memberikan nasehat kepada Adi agar sesekali bersedia mendengarkan masukan dari orang lain, namun tampaknya nasehat dari teman-temannya ini tidak pernah didengar. Padahal ketika kita tidak bersedia mendengarkan sebuah masukan, Sebenarnya kita juga sedang menutup pintu perkembangan bagi diri kita sendiri.
Salah satu hal yang turut menentukan tingkat perkembangan seorang manusia didalam menjalani kehidupannya adalah penerimaan terhadap sebuah kekurangan. Bagaimana seseorang itu menerima dan merespon kekurangan dirinya akan mempengaruhi tingkat perkembangan orang tersebut. Ketika seseorang menerima kekurangan yang ada dalam diri dan menyadari bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk melakukan kesalahan, maka ketika itulah seorang manusia tidak akan dengan mudah menyalahkan lingkungan.
Namun, ketika seseorang cenderung lebih suka menyalahkan lingkungan atas apa yang terjadi didalam dirinya seperti di kisah Adi tadi, sebenarnya orang tersebut sedang merasa menjadi seseorang yang paling benar didalam sebuah kondisi. Perasaan paling benar inilah yang jika tidak disikapi dengan bijak justru akan menutup pintu pembelajaran bagi diri kita.
Karena dengan merasa paling benar, kita cenderung merasa paling pintar yang seringkali justru membuat kita tidak memahami pentingnya sebuah pembelajaran. Padahal, pembelajaran adalah salah satu faktor penting yang membentuk sebuah perkembangan. Seperti pidato Steve Jobs yang berkata “stay hungry & stay Foolish” yaitu tetaplah merasa lapar dan tetaplah merasa bodoh, agar dirimu senantiasa memahami pentingnya pembelajaran bagi perkembanganmu.
Seorang laki-laki terlihat berjalan dengan langkah gontai dipinggir trotoar sebuah jalan. Sinar matahari yang cukup terik di siang hari itu membuat langkah sang lelaki terasa makin berat sehingga langkahnya pun perlahan makin melambat. Setelah merasa tak sanggup melanjutkan langkahnya, pria ini pun memutuskan untuk rehat sejenak di sebuah warung untuk mengistirahatkan dirinya. laki-laki yang terlihat kelelahan karena berjalan cukup jauh ini bernama Achmad.
Di dalam warung, Achmad memesan segelas es teh untuk sekedar melepaskan dahaga. Melihat wajah pelanggannya yang terlihat kelelahan ini, sang pemilik warung pun bertanya : “ habis jalan jauh mas?
“Iya bu, saya habis mencari pekerjaan di ibukota nih. Ternyata cari kerja di jakarta susah ya.” Jawab Achmad
“Memangnya mas nya punya kemampuan apa buat cari kerja disini?”
“nggak ada bu, di desa saya hanya kerja serabutan saja, makanya cari kerja di ibukota. Sambil merantau gitu bu”
Mendengar jawaban dari achmad, sang pemilik warung hanya bisa menggelengkan kepala sembari bergumam heran dalam hati.
Kita memang seringkali menilai segala sesuatu dengan menggunakan sudut pandang kita sendiri. padahal belum tentu sudut pandang yang kita ambil benar-benar tepat. Sama seperti kisah achmad diatas yang merasa kesulitan mendapatkan pekerjaan. Dia kemudian memposisikan diri bahwa mencari pekerjaan adalah hal yang sulit untuk dilakukan.
Pertanyaannya adalah, apakah mencari pekerjaan juga sulit dilakukan bila kita memiliki kompetensi atau kemampuan yang dibutuhkan dalam sebuah bidang pekerjaan? Belum tentu bukan? Karena sulit atau mudahnya sesuatu untuk kita capai itu sebenarnya diri kita sendiri yang menentukan yang dilihat dari apakah kita bersedia mempersiapkan diri untuk mencapai hal tersebut atau justru sebaliknya.
Sama seperti didalam proses untuk mendapatkan karir yang kita inginkan. Mungkin saat ini kita merasa karir kita mentok karena banyaknya faktor politis didalam lingkungan pekerjaan. Padahal bisa jadi, karir kita mentok karena kita sendiri sejak awal tidak pernah mempersiapkan kompetensi yang diperlukan dalam satu bidang pekerjaan yang kita inginkan tadi.
Maka, bila saat ini kita memiliki sesuatu yang ingin kita capai dan impikan, pastikan untuk senantiasa mempersiapkan dan membekali diri kita dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai impian kita tadi, karena impian tanpa usaha dan kemampuan itu layaknya ingin menuju sebuah tempat namun tak pernah benar-benar mempersiapkan akomodasi yang dibutuhkan.
“Duh, perlu cari lagi nih.” Gumam Toni dalam hati
Kala itu Toni baru saja memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan seorang wanita. Hal ini sebenarnya tergolong sebagai hal yang lumrah terjadi dalam hubungan antar manusia. Yang membuat situasi Toni ini jadi tidak biasa adalah karena ini sudah kesekian kalinya dia memutuskan hubungan. Jika ditotal, sudah sekitar 12 kali dia memutuskan hubungan dengan seseorang dalam kurun waktu tiga tahun. Artinya jika diambil rata-rata, Toni berganti pasangan setiap tiga bulan sekali. Ini tentunya bukanlah pertanda yang baik dalam hubungan percintaan di kehidupan Toni.
Andi, sahabat dekat Toni pernah bertanya tentang alasan Toni kerap bergonta ganti pasangan. Dan Toni selalu menjawab dengan singkat, yaitu adanya “ketidakcocokan”. Ketidakcocokan memang kerap kali menjadi alasan terhentinya sebuah hubungan, baik itu hubungan pertemanan, hubungan persaudaraan dan begitu juga dengan hubungan percintaan.
Pertanyaan dalam benak Andi tatkala mendengarkan jawaban tersebut itu adalah apakah ketidakcocokan memang pantas untuk dijadikan alasan utama terputusnya sebuah hubungan?
Manusia dilahirkan ke dunia dengan beragam keunikan yang dimiliki masing-masing yang kemudian membedakan antara satu orang dengan yang lainnya. Selain itu, setiap manusia juga dilahirkan dari lingkungan yang berbeda-beda. Ini menyebabkan pola pikir, pandangan dan kebiasaan tiap manusia pun berbeda. Bahkan seorang anak yang lahir kembar pun ketika besar akan memiliki karakter yang cenderung berbeda. Sehingga sebenarnya kita akan sulit menemukan orang yang cocok atau sama persis dengan diri kita
Definisi cocok itu sendiri menurut KBBI bermakna sama benar, tidak berlainan dan sebuah kesamaan. Jika dalam mencari pasangan kita berpedoman pada definisi cocok seperti pengertian KBBI diatas. Maka bisa jadi saat ini kita mencari seseorang yang sama dengan kita dalam kondisi hidup yang penuh dengan perbedaan. Apakah hal ini mudah dilakukan? Tentu saja tidak..
Maka jika kita dalam proses ingin menjalin hubungan dengan seseorang atau mencari seorang pasangan, pastikan dan pahami terlebih dahulu kriteria yang kita harapkan dan apa bentuk toleransi yang kita siapkan jika ternyata kriteria yang kita inginkan tak mampu dipenuhi. Karena salah memaknai kecocokan dan ketidakcocokan bisa membuat diri kita bernasib sama seperti Toni dalam kisah diatas, yaitu terlalu mudah berganti fokus pasangan.
Mencari seseorang yang cocok dengan kita sebenarnya bukanlah merupakan hal yang salah. Karena pada dasarnya diri kita selalu memiliki keinginan untuk mendapatkan pasangan untuk menjalani hubungan jangka panjang. Namun, dengan pemahaman yang tepat tentang sebuah perbedaan kita jadi lebih mudah untuk menerima seseorang.
Hal inilah yang nantinya akan membuat kita mampu menyatukan antara harapan yang kita miliki terhadap seseorang dengan perbedaan yang ada dalam diri orang tersebut yang akan mengarahkan kita pada penerimaan dalam sebuah hubungan. Karena kecocokan itu tidak selalu harus ditemukan, kadang dia juga perlu untuk kita ciptakan sendiri melalui sebuah penerimaan.
Kesuksesan itu hanyalah milik seseorang yang bersedia memberikan sesuatu yang “lebih” dalam rangka mencapai apa yang kita inginkan. Inilah pembelajaran yang saya dapatkan dari pertemuan saya dengan seorang sahabat kemarin. Sebut saja namanya Adi. Profesinya adalah seorang pengusaha. Dia merintis usahanya dari nol hingga akhirnya saat ini omzetnya mencapai puluhan juta perbulan.
Saya mengenalnya ketika kami masih sama-sama bekerja di sebuah perusahaan beberapa tahun lalu. Yang unik dan berbeda dari Adi adalah kemauannya untuk mengeluarkan usaha di tengah rutinitasnya sebagai seorang karyawan. Ketika karyawan lain pulang kerja dan beristirahat, sahabat saya ini justru menjalankan bisnisnya sepulang bekerja. Bahkan tak jarang Adi harus begadang hingga tengah malam dan bangun pagi-pagi buta untuk menjalankan bisnisnya.
Tak heran dalam waktu singkat, Bisnisnya pun melejit. Sehingga walaupun Adi berstatus sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan, namun penghasilannya dari berbisnis pun sudah berlipat-lipat ketimbang gajinya yang diterimanya.
Ketika saya menanyakan tips dan triknya bila kita ingin mendapatkan apa yang kita inginkan, Adi hanya menjawab singkat yaitu “jangan mengharapkan hasil yang tidak biasa ketika kamu mengeluarkan usaha yang biasa-biasa saja seperti orang kebanyakan. Ketika kamu ingin sesuatu yang lebih, maka berikanlah usaha yang lebih. Karena mengharapkan hasil lebih dengan usaha biasa saja itu sama seperti mengharapkan sampai tujuan dengan cepat tapi kita berjalan dengan lambat.”
Jadi, sudah sebesar apakah usaha yang kita keluarkan untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan?
Namanya adalah Sayaka, saat kecil cita-citanya adalah memiliki teman. Cita-cita ini muncul bukanlah tanpa alasan. Dulunya, dia sering dibully dan tidak memiliki teman sehingga sering berpindah sekolah. Suatu hari, Sayaka melihat segerombolan siswi dan tertarik dengan seragam yang mereka gunakan. Ternyata seragam yang dikenakan adalah seragam sekolah swasta khusus untuk anak perempuan. Melihat ketertarikan anaknya, sang ibu pun memasukkan Sayaka ke sekolah tersebut dan meminta Sayaka untuk bersenang-senang. Maka Sayaka pun menghabiskan waktu di sekolah untuk berteman dan bersenang-senang.
Namun ternyata Sayaka justru terlalu berlebihan dalam bersenang-senang. Saat SMA, Sayaka masuk di kelas yang berisi kumpulan siswi dengan peringkat terbawah di sekolahnya. Selain itu, Sayaka kerap membuat masalah yang membuat dirinya sering terkena hukuman skors dan terancam drop out.
Menyadari masa depan anaknya terancam suram, sang ibunda pun akhirnya meminta Sayaka untuk mengikuti bimbingan belajar persiapan masuk universitas. Dari hasil tes penempatan bimbingan belajar ternyata diketahui bahwa Sayaka hanya memiliki kemampuan akademik setara kelas 4 SD. Meski begitu, Guru Bimbel Sayaka meminta Sayaka untuk tetap optimis dan berjuang masuk salah satu Universitas terbaik di Jepang. Sayaka pun memilih Universitas Keio, universitas swasta terbaik di Jepang.
Menyadari masa depan anaknya terancam suram, sang ibunda pun akhirnya meminta Sayaka untuk mengikuti bimbingan belajar persiapan masuk universitas. Dari hasil tes penempatan bimbingan belajar ternyata diketahui bahwa Sayaka hanya memiliki kemampuan akademik setara kelas 4 SD. Meski begitu, Guru Bimbel Sayaka meminta Sayaka untuk tetap optimis dan berjuang masuk salah satu Universitas terbaik di Jepang. Sayaka pun memilih Universitas Keio, universitas swasta terbaik di Jepang.
Perjuangan Sayaka untuk masuk Universitas Keio tidaklah mudah. Dia harus mengejar ketertinggalannya. Di sekolah, Sayaka berada di ranking terbawah dengan nilai standar deviasi 30 sementara yang masuk Keio biasanya memilki nilai standar deviasi 70. Melihat kondisi Sayaka ini, sang ayah justru mengejeknya dan meyakini bahwa Sayaka tak akan bisa diterima di universitas Keio. Sayaka pun makin termotivasi untuk membuktikan diri kepada orang tuanya bahwa dia bersungguh-sungguh dengan tujuannya. Walaupun memiliki banyak keterbatasan, namun akhirnya Sayaka berhasil lulus tes Universitas Keio di Jepang dengan ketekunannya.
Ketekunan adalah sesuatu yang menggerakkan kita menuju kesuksesan dengan lebih efektif ketimbang sebuah kepandaian. Mengapa demikian? Karena orang-orang yang pandai, biasanya cenderung tidak sabar dalam menjalani proses yang dibutuhkan. Kepandaian yang dimiliki terkadang membuat mereka merasa seharusnya mudah untuk mendapatkan sesuatu. Maka, setiap kendala atau permasalahan didalam proses menuju apa yang ingin mereka dapatkan tersebut akan cenderung membuat mereka mudah menyerah.
Dan begitu pula sebaliknya dengan Sayaka dalam kisah diatas, menyadari bahwa dirinya kurang pandai membuat dia mengerahkan upaya semaksimal mungkin untuk mengimbangi kekurangannya tersebut. Hal ini mendorong motivasinya untuk berusaha lebih keras dan lebih tekun menjalani proses di tengah keterbatasan yang dimilikinya sehingga akhirnya keberhasilan pun mampu dia dapatkan
Maka, tidak perlu merasa risau jika hari ini kita merasa belum pandai, karena yang terpenting sesungguhnya bukanlah kepandaian yang kita miliki, melainkan ketekunan yang kita tunjukkan dalam proses menuju keberhasilan yang kita dapatkan.
Dikisahkan, suatu ketika seorang customer mengajukan protes karena mobil barunya yang baru saja dibeli mengalami kebocoran oli. Sang penjual mobil tersebut menyarankan untuk membawa mobil tersebut ke bengkel perusahaannya untuk diperiksa. Rupanya para mekanik mengalami kesulitan menemukan sumber kebocoran tersebut, sehingga mobil sang customer harus ditinggalkan beberapa hari di bengkel untuk dilakukan pengecekan lebih detail.
Tanpa diminta oleh customer, sang penjual segera menawarkan apakah dia memerlukan mobil pengganti selama mobilnya masuk bengkel. Customer mengira tawaran mobil pengganti itu adalah standar pelayanan dari dealer tersebut, jadi ia menerimanya. Belakangan diketahui bahwa mobil tersebut di sewa oleh sang penjual dengan menggunakan dana pribadinya sendiri. Hal ini baru diketahui oleh customer pada waktu ia mengembalikan mobil pengganti tersebut ke dealer
Setelah dilakukan pengecekan, ternyata kebocoran oli tersebut tetap tidak ditemukan akar masalahnya. Berdasarkan informasi dari kantor pusat ternyata memang dari 1000 unit mobil yang diproduksi, ada 1 - 2 unit yang diprediksi mengalami kerusakan seperti itu sehingga hal tersebut dianggap sebagai hal yang biasa. Sang penjual kemudian berpikir, bagi perusahaan mobil kerusakan satu unit mobil tersebut memang tidak terlalu berarti, tapi bagi customernya, hal itu adalah segala-galanya
Maka, sang penjual pun berupaya memperjuangkan kepuasan customernya dengan melakukan lobying ke tingkat regional. Namun upaya penjual tersebut di tingkat regional ditolak. Penjual tersebut pun kembali melakukan lobying langsung ke tingkat pimpinan puncak. Dengan tiket pesawat yang ia bayar dari dana pribadinya sendiri ia terbang ke kantor pusat untuk bertemu dengan direkturnya dan meminta solusi atas kerusakan yang ada. Akhirnya mobil customer tersebut diganti dengan unit yang baru.
Pertanyaannya adalah, siapa gerangan penjual yang bersedia memperjuangkan customernya sampai sejauh itu?
Pria ini adalah Joe Girard, pria kelahiran Detroit, Michigan yang mencatatkan namanya didalam Guinness Book of World Records sebagai penjual mobil nomor satu didunia. Beliau diberi gelar "The World Greatest Salesman". Rekornya adalah menjual mobil secara personil atau eceran dalam satu tahun yang hingga saat ini belum terpecahkan. Joe Girard menjual mobil di Detroit Amerika Serikat sekitar tahun 60-an dan rekornya adalah 1.425 buah mobil dalam satu tahun. Disaat salesman-salesman lain hanya menjual 4-5 mobil per bulan, Joe bisa menjual 4-5 buah mobil per hari. Dan selama berkarir dia sudah menjual 13.001 mobil baru secara personil atau eceran.
Apa kira-kira kiat Joe Girard untuk mendapatkan prestasinya tadi? Ternyata simpel, yaitu fokus memberikan layanan yang terbaik kepada setiap pelanggannya dan jangan terlalu melakukan perhitungan dalam mengerjakan sesuatu yang memang menjadi pekerjaan kita sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Joe yang hanya demi seorang pelanggan, dirinya rela pergi ke kantor regional dan kantor pusat dengan menggunakan dana pribadinya. Semua itu dilakukannya untuk menjaga kepuasan pelanggan dan tanpa melakukan perhitungan terhadap keuntungan apa yang akan diberikan oleh perusahaan pada dirinya. Akhirnya prestasi yang gemilang pun mampu diraihnya.
Maka, jika diri kita saat ini masih melakukan perhitungan terhadap setiap pekerjaan yang kita lakukan, mulai sekarang lakukan pekerjaan kita dengan totalitas dan tanpa hitung-hitungan. Karena terlalu menghitung apa yang telah kita lakukan terkadang justru membatasi diri kita untuk memberikan kinerja yang dibutuhkan untuk mencapai karir dan prestasi yang kita harapkan..
Ingin ngobrol langsung dengan saya? silahkan disimak di FB/Twitter/Path/IG : @Ivandhana
Semoga Bermanfaat...
Ada yang sudah menonton film Shahrukh Khan yang berjudul “FAN” yang dirilis awal tahun 2016 lalu? Film yang menceritakan tentang perjuangan seorang fans bertemu artis idola nya ini memiliki alur cerita unik dan terbilang tidak biasa. Disebut tidak biasa, karena film ini menggambarkan hubungan yang kompleks antara seorang artis dan fans nya, yaitu ketika cinta dan hasrat pada seorang idola berubah menjadi obsesi yang justru membahayakan
Fan berkisah tentang Gaurav Chandna, seorang pemuda di Delhi yang sangat memuja bintang Bollywood bernama Aryan Khanna (yang dibintangi oleh shahrukh Khan). Kecintaannya pada sang idola membuat pemuda ini terobsesi untuk bisa bertemu langsung dengan sang idola nya tersebut. Kemampuan Gaurav meniru Aryan yang didukung wajahnya yang cukup mirip membuatnya berhasil memenangkan sebuah kompetisi. Hadiah dari kompetisi ini kemudian digunakan untuk pergi ke Mumbai demi bertemu secara langsung di hari ulang tahun sang pujaannya tersebut.
Kecintaan Gaurav terhadap Aryan memang begitu besar, sampai-sampai ia tak terima ketika sang idola dituduh berlaku kasar pada salah satu aktor lain di salah satu pemberitaan media. Kasus ini mendorong Gaurav melakukan tindakan ekstrem dengan menyandera dan mengancam sang aktor ini, demi memulihkan nama Aryan.
Namun, respons Aryan terhadap semua itu tak menggembirakan Gaurav. Karena sang idola justru menegur sang fans untuk menghentikan aksi nekatnya yang dianggap melanggar hukum tersebut. Akhirnya, Gaurav pun makin terobsesi, namun kali ini untuk menjatuhkan popularitas Aryan yang dianggap sudah menghancurkan hati fans nya
Film Fan seakan menggambarkan bahwa terkadang kecintaan yang berlebihan terhadap sesuatu itu dapat membuat diri kita melupakan logika kita dan membuat kita melakukan hal-hal yang terlihat tidak mungkin untuk kita lakukan. Bahkan tak jarang, rasa cinta yang berlebihan menimbulkan kenekatan pada diri kita untuk melakukan banyak hal yang tergolong tidak biasa.
Sama seperti ketika kita menyukai seseorang atau sesuatu. Terkadang tanpa kita sadari, perasaan suka tersebut membuat kita bersedia melakukan apapun demi mendapatkan sesuatu itu. Inilah yang kemudian kita harus hindari. Kita boleh saja memiliki perasaan suka terhadap sesuatu, namun jangan sampai rasa suka tersebut jadi berlebihan yang membuat kita melakukan hal-hal yang justru merugikan diri kita sendiri sebagai seorang manusia.
Bukankah pada dasarnya segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bagi kita?



















